oleh Sri Asnawati pada 12 Februari 2011 jam 15:22
Sore yang sendu tetap mengalir diiringi angin senja musim penghujan. Nurdin dengan mendayu-dayu menterjemahkan isi hati dalam kata yang dengan setia di dengarkan oleh Rangga, sahabatnya. Sambil membolak-balik buku biografi Soekarno dan Hatta yang tebalnya ratusan halaman Khaled ungkapkan semuanya. Sengaja ia mainkan buku di tangannya untuk menutupi tangannya yang gemetar. Sementara itu, di tempat yang berbeda, di sudut kampus terdapat segelintir pemuda yang sibuk membicarakan semangat persatuaan. Ya, semangat membangun kembali puing-puing peradaban yang tercabik sangat menyakitkan. “usaha pertama yang dilakukan penjajah terhadap dunia Islam adalah membaginya menjadi bagian-bagian atau negeri-negeri kecil. Langkah awal mereka adalah membuat bangsa Arab “dengan senang hati”memberontak terhadap Turki Utsmani dengan alasan mereka lebih berhak memegang khilafah, dan menjanjikan mereka dengan terbentuknya Impeium Arab yang menyatukan seluruh bangsa Arab, jika mereka mau melakukan pemberontakan. Diantara hasil perang dunia pertama ini ialah Turki utsmani terkepung dan terisolasi, sedangkan negeri-negeri Arab terbagi menjadi lebih dari dua puluh negara kecil. Perpecahan itu berlangsung hingga kini tidak hnaya dalam batas teritorial, tapi juga perpecahan dalam mencapai kepentingan. Penjajahan telah meninggalkan luka perpecahan yang tetap berlangsung dan mudah menganga kembali ketika terlihat mulai sembuh (Musthafa Muhammad Thahan, 2008: 4),” dengan tenang namun penuh semangat Hilmi memaparkan materi tentang Islam dan Pemuda di hadapan adik-adik tingkat dan rekan seangkatannya di Lembaga dakwah Kampus.
Jika Nurdin dengan menggebu berjuang dengan semangat nasionalismenya maka Hilmi berjuang bukan hanya dengan semangat itu tapi ia juga berjuang dengan kesadaran akan kewajibannya sebagai seorang hamba terhadap Rabbnya. Bagi Hilmi nasionalisme ditentukan oleh aqidah, sementara bagi Nurdin nasionalisme batasannya ditentukan oleh teritorial wilayah negara dalam batasan-batasan geografis.
Sejenak suasana diskusi di pojok masjid kampus senyap. Hilmi yang dari tadi menyampaikan gagasan-gagasannya memberi kesempatan kepada rekan-rekannya untuk menanggapi, bertanya, atau menyanggah jika ada hal yang tidak disepakati. Waktu quo tak berlangsung lama. Tangan Sofyan sudah terangkat hendak mempertanyakan pernyataan yang menurutnya ganjil. Memang, Sofyan unggul dalam hal melogikakan kata dan memiliki daya nalar yang tinggi. Maklum saja dia adalah mahasiswa Sains murni yang mengambil jurusan matematika jadi cara perfikir logis dan sistematis seolah menjadi karakternya.
“Akh Hilmi, apakah seruan kepada Islam bukannya akan merusak persatuan? Kita semua tahu bahwa di Indonesia ada berbagai macam agama,”dengan menggebu Sofyan mengemukakan pikirannya.
Sebelum menjawab pertanyaan Sofyan Hilmi tersenyum hingga gigi-giginya yang putih terlihat, “Sungguh akhi, betapa rapuhnya klaim yang mengatakan bahwa seruan kepada Islam hanya merusak persatuan bangsa yang terdiri dari berbagai aliran agama. Sesungguhnya islam-sebagai agama persatuan dan persamaan-telah menjamin kekuatan ikatan itu selama masyarakat tetap tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. Lihatlah firman Allah SWT,’Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS Al- Mumtahanah: 8)’ (Hasan Al Banna, 2008: 41)” dengan cerdik Hilmi menyusun puzle kebingungan yang dialami Sofyan. Mendengar jawaban Hilmi itu, tanda tannya di kepala Sofyan seolah hilang terbang dan terganti dengan kejernihan.
#######
“Din bangun!! Nggak sholat kamu? Subuh udah lewat. Noh mentari mau nongol,”Rangga mengguncang-guncang badan sahabat sekamarnya yang susah sekali untuk menjalankan sholat subuh.
Nurdin tetap tak bergeming walau ia mendengar dengan jelas seruan sahabatnya. Sambil tetap memjamkan mata ia berkata, “Ya Allah....please maafkan hambamu ini. Aku dispen sholat subuh lagi ya Allah,”sambil memeluk bantal lebih erat.
“Dasar!! Manusia tidak tahu diuntung kamu ini Din! Tahu rasa nanti kalau Allah Murka,”Rangga menimpali kata-kata penolakan Nurdin sambil mengosok-gosok rambutnya yang basah sehabis keramas. “biarpun aku bukan anak rohis tapi aktifis yang manis, aku ogah ketinggalan solah Din!”
“berisik kamu Ngga!”Nurdin melempar Rangga dengan bantal “makanya doakan aku biar tobat. Kamu sih suka lupa mendoakan sahabatnya jadilah aku banyak dispen sholat”
“hah???”Rangga hanya terbengong-bengong mendengar jawaban Khalid. “wah ini sih bisa kena saing sama Hilmi. Siap-siap. Bukan hal mustahi melati pujaan hatimu lebih terpikat pada Hilmi yang Sholeh. Emm...,”Rangga memandang wajah Nurdin sambil menilai dan menimbang-nimbang, “dompet tembelan kamu dikit. Otak cerdasan Hilmi. Tampang kerenan kamu tapi Hilmi juga ganteng. Gimana nih?”
Hati Nurdin terbakar amarah. Tidak terima dibanding-bandingkan tapi ia sadar benar bahwa rasio antara dia dan Hilmi memang bagai satu banding lima. Sudah cukup ketertinggalan itu. Jika tidak bertahan bisa-bisa satu banding sepuluh perbandingan antara dirinya dan Hilmi. Tak perlu pikir panjang, Nurdin langsung lari ke kamar mandi dan sholat setengah terpaksa hanya demi memperthankan kualitas di hadapan si penakluk hatinya. Melihat adegan itu Rangga tertawa puas sekali, “ckckckc...tak ku sangka ketua GPN luluh lantak jika sudah di sebut nama si melati pujaan hati. Apalagi jika disebut melati dipasangkan dengan Hilmi heu, terbakar api cemburu deh.” Rangga makin menjadi menggoda Khalid dengan menyanyikan lagu band pentolan Giring penuh ekspresi, “bila aku jatuh cinta...aku mendengar nyanyian seribu dewa dewi cinta menggema dunia.... bila aku jatuh cinta... aku melihat matahari kan datang padaku dan memelukku dengaaaaaan sayang.... Bila aku jatuh cinta aku melihat sang bulan kan datang padaku dan menemani aku huoooo.... melewati dinginnya mimpi....melewati dinginnya mimpi.....hahahaha”
Tiba-tiba pintu kos kamar Nurdin dan Rangga diketuk. Si pengetuk pintu sudah masuk sebelum diberi izin. Dengan tersengal-sengal Asep berkata, “Kang, Haris....Haris....Haris Kang. Dia dikroyok sama pereman”
“yang bener kamu Sep? Terus dia dimana sekarang?”Nurdin bertanya panik
“Tadi saya lewat di jalan perempatan dekat kampus. Liat Haris dihajar sama orang yang badannya gede-gede aku langsung lari kesini kasih tahu Kang Nurdin. Aku gak berani bantuin Kang!”
Nurdin langsung lari menuju tempat Haris dikeroyok oleh pereman. Nurdin berlari kencang. Pikirannya hanya satu, keselamatan Haris. Selang beberapa menit Nurdin melihat tubuh Haris sudah tergeetak tak berdaya. Badan Haris penuh luka dan darah bahkan dia sudah tidak sadarkan diri. “Haris, Ris bangun Ris,” Nurdin marah sambil menahan air mata melihat kawannya babak belur. “Tak diragukan lagi ini pasti gara-gara demonstrasi mengkritik wali kota yang kita lakukan kemarin,”Yakin Nurdin.
(BERSAMBUNG)
hati seorang nasionalis 2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar