Aku pulang dari kegiatan alloctone vrouw sampai malam. Sekitar pukul 08.00 waktu setempat aku pulang. Aku berjalan menuju mainsonette. Musim panas memang sangat menyenangkan karena langit pun akan bertaburan bintang yang penuh pesona saat malam hari. Berjalan pulang menuju mainsonette membuatku teringat tentang cerita ketika aku masih di Indonesia. Masih di rumah. Aku ingat benar dengan apa yang aku rasakan saat itu. Inilah perasaan dan kisahku saat aku berpisah dengan Umair.
Aku mendambakan cinta antara Aku dan Umair mendunia akhirat. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku bisa merindukan dan menyayanginya. Yang jelas aku merasa bisa menjadi diriku sepenuhnya jika sedang bersamanya. Aku bisa terbuka tentang apa saja padanya. Dan kalian tahu bagaimana rasanya? Sungguh tanpa beban dan itu indah sekali. Bagaimana aku tidak menyayanginya? Mudah sekali untuk jatuh hati padanya.
Kamis, 8 juli 2010 aku merasa sangat putus asa. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali bercerita padanya walau hanya dengan pesan singkat. Dan jika kesedihan sedang melandaku maka Umair akan menceritakan kisah-kisah yang membuatku bisa tersenyum lagi. Kisah apa saja tapi, Umair tidak pernah menceritakan dongeng klasik, legenda atau cerita apa pun milik orang lain. Dia selalu membuatkan cerita untukku. Hanya untukku. Cerita yang ia buat dan karang sendiri. Dia memang benar-benar romantis walau sering mengelak jika aku mengatakan bahwa dia romantis.
Tentu saat itu aku sedang tidak bersamanya. Dan lagi-lagi dia mengirim pesan yang membuatku jadi sedikit melankolis. Pandai benar dia membuatku jadi melankolis. Padahal dia hanya mengirim pesan, “catatan mainsonette akan selalu menjadi teman terbaik mimpiku, selalu. Berani jual berapa note itu untukku? Hanya untukku” aku benar-benar merindukannya. Jarak memisahkan kami begitu jauh. Dia ada di Australia. Sudah lama meninggalkan tanah air untuk belajar linguistik di negeri kanguru itu. Dan aku? Aku masih ada di Cirebon. Mungkin dia tahu aku tidak punya pulsa cukup walau hanya untuk membalas pesan singkatnya. Beberapa menit kemudian dia menelfonku. Tentu saja Umair tidak pernah tahu apa nama dia di phone book milikku.
“Assalamu’alaikum Indah….,” aku mendengar suara Umair dari Australia jumat dini hari setelah aku sholat tahajud. Aku benar-benar merindukannya
.
Aku masih tertegun. Sampai tidak bisa berkata-kata. Akhirnya Umair berkata lagi,”Indah, masih tidur?”
“oh…wa’alaikum salam. Tidak, sudah bangun,” jawabku grogi.
“kabarmu baik?”
“Alhamdulillah”
“bagus kalu begitu. Sebenarnya aku ingin menagih janjimu padaku. boleh aku tagih sekarang?”
Dahiku berkerut. Aku bingung dengan janji yang ia maksud. “janji? Janji apa?” tanyaku padanya karena memang merasa bingung dengan janji yang ia maksud.
“hey, kau lupa? Cepatlah kesini. Ke Australi. Aku menunggumu disini. Bukankah kita pernah berjanji bahwa kita akan bertemu di tempat yang kita janjikan? Di kota impian kita”
Aku diam. Ya, dulu aku pernah berjaji tentang hal itu tapi agaknya aku benar-benar tidak bisa memenuhinya. Bagaimana bisa aku pergi ke Ausrtalia sementara skripsi saja belum sempat aku selesaikan. Dan aku pun tidak punya ongkos untuk menemui Umair di kota yang kita janjikan. Akhirya aku mengatakan sesuatu yang membuatnya sangat kecewa,”Umair...aku tidak bisa ke Australia. Aku benar-benar tidak bisa ke sana. Mimpiku bukan ke Benua itu”
Tidak ada jawaban dari seberang sana. Umair diam beberapa saat. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku makin menyayanginya, “aku percaya padamu. Aku akan tetap menunggumu di kota yang telah kita janjikan. Belajarlah dengan giat. Aku yakin kamu bisa menemuiku disini. Aku akan selalu merindukanmu”
“ya, trimakasih atas semua perhatianmu padaku. kau baik sekali”
“ah, kamu ini….aku memang baik padamu dari dulu” ucap Umair menggoda sambil tertawa.
“oh ya, sudah dulu ya... Nanti kapan-kapan aku telfon lagi” Setelah aku menjawab, “ya” Umair langsung memutus sambungan telfonnya.
Aku harus belajar dengan giat. Aku ingin menyusul Umair yang sudah lebih dulu mencuri strat dariku. Dia sudah sampai Australia menyelesaikan pendidikan masternya. Aku memohon dengan doa penuh pengharapan. Semua aplikasi pendaftaran di salah satu Universtas di Australia yang telah aku kirim februari tahun kemarin semoga lolos. Dan yang lebih penting semoga aku pun bisa mendapatkan APS. Memang sangat lucu jika akhirnya aku bisa ke ustralia karena aku yakin Umair telah menyelesaikan studinya saat aku samapi. Kalau aku datang Umair malah harus pulang ke Indonesia. Bagaimana jika sudah begini? Tidaklah menjadi masalah menurutku karena aku lebih berharap semua aplikasi masuk Utrecht dapat lolos. Aku akan lebih senang berguru pada Frudental. Tapi aku percaya bahwa Allah akan mempertemukan kami di tempat yang indah suatu saat nanti. Walaupun bukan di Australia pikirku.
ALLOCHTONEN

Hidup menjadi perantau di Eropa adalah siap menjadi minoritas. Aksi-aksi rasis dan diskriminatif adalah hal biasa yang harus siap kami terima. Mulai dari dicurigai jika datang untuk membeli sesuatu di toko, tidak diturunkan di halte berikutnya waktu memencet bel, dan banyak lagi. Pernah ada seorang ibu-ibu berkata pada temannya, “pas op met jauw portemone!” aku tahu kata-kata itu ditujukan padaku. “aku bukan copet!” Keluhku dalam hati. Mereka pikir aku tidak mengerti dengan kata-kata itu. setidaknya aku cukup mahir berbahasa belanda. Ibuku yang keturunan Belanda mengajariku bahasa belanda dengan cukup baik. Aku bukan termasuk tipe orang yang pasrah jika di perlakukan seperti ini. aku langsung mengatakan, “wat is era aan de hand, mewrouw? Ben je bang?” Walaupun aku mengatakan itu mereka tetap menjaga jarak denganku seolah aku adalah kriminal. Tapi setelah aku mengatakan bahwa ibuku asli Holland sikap mereka langsung berubah manis. Mereka bertanya ibuku tinggal dimana. aku menerangkan bahwa ibuku tinggal di jawa, Indonesia dan menikah dengan petani Indonesia. Sementara aku sedang belajar di Utrecht. Inilah adegan yang paling aku sukai. Saat nyonya-nyonya belanda itu kebakaran jenggot mengetahui fakta yang ada. Mereka malu sekali pada orang-orang Indonesia. Selain karena sejarah masa lalu juga karena banyak diantara mereka yang menikah dengan orang Indonesia. Tapi peristiwa ini akan segera lalu karena besok adalah hari kamis.
Kamis adalah hari yang paling membahagiakan bagi aku dan Umair karena kami berdua sama-sama tidak ada jadwal kuliah. Setidaknya selain shaum sunnah kami bisa asyik membaca buku-buku pergerakan yang kami beli dalam versi elektronik book. Saat kami sibuk dengan bacaan kami masing-masing, tiba-tiba bel berbunyi. Agaknya ada tamu yang datang. “teeet…..teeet….teeet….” suara bel dipencet oleh seseorang di balik pintu. Aku dan Umair saling berpandangan. Agaknya kami berdua sama-sama heran siapa yang bertamu siang-siang begini. Saat aku hendak berdiri membuka pintu tiba-tiba tamu itu sudah masuk dan mengatakan, “moshi moshi mei,” pada kami berdua. Aku sudah tidak heran lagi dengan tamu satu ini. Siapa lagi kalau bukan makoto dari negeri penjajah, Jepang? Makoto adalah teman Umair. Mereka berdua sama-sama belajar linguistic di Utrecht. Bukan main kalau mereka berdua sudah bertemu aku bisa jadi kambing conge jika mereka berdua sudah ngobrol.
Aku mengerti benar maksud kedatangan Makoto. Tanpa basa-basi aku langsung menawarkan minum pada Makoto, “drink? Tea or coffe?” tawarku padanya.
Makoto langsung menjawab, “ up to you”
“ok,” dan aku pun pergi ke dapur membuat teh untuk Makoto. Beberapa menit kemudian aku menyuguhkan teh dan cemilan untuk Makoto. Makoto mengucapkan, “Arigato gozaimatsu” padaku. aku hanya menjawab dengan senyuman. aku pun meninggalkan mereka yang tampak asyik membicarak urusan kuliahnya masing-masing. Jika aku tetap memaksakan diri ada diantara mereka berdua maka bisa dipastikan aku jadi kambing conge.
Akhirnya aku masuk kamar dan siap-siap pergi ke kegiatan alloctone vrouw (perempuan asing). Setelah siap aku keluar lalu menemui Umair dan Makoto. “aku ada kegiatan alloctone vrouw hari ini. Oh ya tahu strippenkaart-ku ada dimana?” aku bertanya pada Umair.
umair menunjuk meja dekat jendela. Aku segera mengambil strippenkaart yang ada di atas meja lalu berkata, “tot zo…,” pada Makoto. Makoto teersenyum sampai mata sipitnya tertutup oleh kelopak mata.
Sementara Umair mengatakan,” pas op,” padaku.
sebenarnya aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama Umair akhir-akhir ini karena enam bulan lagi aku akan kembali ke Indonesia. Sendirian. Tanpa Umair. Ya, karena Umair menempuh jenjang pendidikan yang berbeda denganku. Aku masih menyelesaikan S2 sementara Umair sedang menempuh S3. Aku pikir dia akan menjadi ahli linguistic yang hebat. Kalian tahu kisah sebelum kita bisa betemu di Belanda dan tinggal di Mainsonette? Bagaimana ya? Ya, bisa dibilang seperti kejar-jejaran dan saling mencari.
MAINSONETTE
Teramat pagi untuk m'bicarakan ambisi tp jiwa pemuda akan sll diselimuti mimpi. Ambisi takkan pnh lari dr manusia jenis ini. Dan wkt ini tak lg pagi. Rupanya telah menjelang senja. Itulah cttn sejarah hdp. Ia mengalir bak air terjun d tengah keangkuhan mlawan wkt yg mnimbulkan kerut di kulit.
Ada Cinta dan Rindu yg tak pnh ku temui. Aku mrindukan mrk. Sudah bersuamikah atau mungkin mrk tlah bahagia dg anak2y? Mainsonette ini adlh tempat indah yg ku singgahi skaligus tmpt yg menawanku untk mnemui Cinta dan Rindu slama 1,5th trakhir. Aku ingin pulang. Aku ingin istirahat dr ambisi. Tunggulah aku d negri terindah milik kt. Sebentar lg. Ah, rasanya ingin segera menginjakkan kaki d bandara Schiphol. Aku ingin plg...tp 6bln itu lama bkn? Terasa lama bg org yg me2ndam rindu.
"Indah, ayo brangjat. Km tdk blh terlambat. Hr ini ad kuliah penting bkn?" Umair menyadarkan lamunanku. Umair adalah tipe org yg sngt perhatian, pnh pertimbangan, bs m'jd sahabat yg baik dan lbh suka memanggilku Indah dr pd Gadis. Aku sngt menyayanginya. Kami b2 menempati mainsonette d lantai4.
"ya, aku sdh siap. Bawel!" aku m'jwb stengah berteriak dan sdikit menggoda.
Huh, bljr 'the element of real analisit' m'bwt otak capek dan kpala berat. Aku t'senyum tringat rumus yg hny dimiliki olh org2 Indonesia. Kau th rumus apa itu? Rumus ABC. Dr belahan dunia manapun tak akn ad rumus mcm itu kecuali d Indonesia. Formula itulah yg akn menyelamatkanku saat ujian tesis kelak. Bs disebut ini adlh senjata rahasia. Aku ingin menyelesaikan studiku dg cepat dan plg se2gera mungkin.
"kau tdk ad kuliah kan hr ini? Masak yg enak ya. . .kasianlah pd ku. Energiku pst terkuras blajar angka2. Bye. LOVE YOU..." Aku keluar dilepas senyum Umair yg senang dg kata2ku.
Aku mnuju Utrecht Universeit. Ya, dl aku ingin kuliah d universitas tertua d Belanda, Leiden Universeit tp, tampak'y aku malah hrs bljr pd Frudental. Oh, RME. . .RME. . .dan RME.
Hr ini pertanyaan pertama adlh, "ben je asielzoeker?" pertanyaan ini muncul mungkin krn aku berdandan biasa2 sj dan berkerudung. Sebal benar rasanya! "dasar otak penjajah," makiku dlm hati. Aku langsung m'jwb agak ketus pd perempuan yg brtanya pd ku, "sorry mevrouw, ik ben Indisch. . .weet je dat vroeger Nederlands pakt alles van mij land. . ." smbl berbalik badan dan b'jln menjauh dr'y. Puas skali. Bahkan aku hampir tak sadar bs mengeluarkan kata2 mcm itu.
Spulang kuliah aku lapar skali. Rasanya enak menyantap masakan Umair tp ktika aku plg tak ada satupun makanan yg terhidang. "apa sj yg km lakukan d rmh? Tdk masak? Aku lapar!" ucapku agak kesal.
Umair hny senyum2 smbl m'jwb, "aku hny mnunggumu plg"
"ah, tdk akan kenyang dg senyumanmu"
"ayo kt kluar. Makan malam d luar sj," Umair menarik tanganku keluar Mainsonette, "yang pasti kejutan. Romantis. Km pst suka"
"heh?" aku heran, "tnggu. . ." aku menarik tanganku dr genggaman Umair dan berhenti melangkahkan kaki.
"ayo. . .percaya pd ku" Umair b'kata smbl mrangkul bahuku. Kali ini akt tdk bs apa2 tp, aku sll pcy pd nya. Lalu dia mlanjutkan lg, "nnt. . .sblm kt plg k Indonesia kt akn pergi k Barcelona dlu"
"hmm. . ." jwb ku smbl t'syum bhagia. "ke Green Gables jg ya!"
"heh, dasar bnyk maunya"
"biar. Krn permintaan pergi ke Green Gables hny ku tujukan pd mu. Kalau k Barcelona tak apalah d ajak org lain.hahaha..."
kami berdua b'jln d malam hr d bwh bintang yg bertaburan smbl bergandengan tangan. Kanal2 d spanjang jalan memantulkan cahaya bulan yg indah. "kau bahagia?" tanya Umair.
"ya"
Ada Cinta dan Rindu yg tak pnh ku temui. Aku mrindukan mrk. Sudah bersuamikah atau mungkin mrk tlah bahagia dg anak2y? Mainsonette ini adlh tempat indah yg ku singgahi skaligus tmpt yg menawanku untk mnemui Cinta dan Rindu slama 1,5th trakhir. Aku ingin pulang. Aku ingin istirahat dr ambisi. Tunggulah aku d negri terindah milik kt. Sebentar lg. Ah, rasanya ingin segera menginjakkan kaki d bandara Schiphol. Aku ingin plg...tp 6bln itu lama bkn? Terasa lama bg org yg me2ndam rindu.
"Indah, ayo brangjat. Km tdk blh terlambat. Hr ini ad kuliah penting bkn?" Umair menyadarkan lamunanku. Umair adalah tipe org yg sngt perhatian, pnh pertimbangan, bs m'jd sahabat yg baik dan lbh suka memanggilku Indah dr pd Gadis. Aku sngt menyayanginya. Kami b2 menempati mainsonette d lantai4.
"ya, aku sdh siap. Bawel!" aku m'jwb stengah berteriak dan sdikit menggoda.
Huh, bljr 'the element of real analisit' m'bwt otak capek dan kpala berat. Aku t'senyum tringat rumus yg hny dimiliki olh org2 Indonesia. Kau th rumus apa itu? Rumus ABC. Dr belahan dunia manapun tak akn ad rumus mcm itu kecuali d Indonesia. Formula itulah yg akn menyelamatkanku saat ujian tesis kelak. Bs disebut ini adlh senjata rahasia. Aku ingin menyelesaikan studiku dg cepat dan plg se2gera mungkin.
"kau tdk ad kuliah kan hr ini? Masak yg enak ya. . .kasianlah pd ku. Energiku pst terkuras blajar angka2. Bye. LOVE YOU..." Aku keluar dilepas senyum Umair yg senang dg kata2ku.
Aku mnuju Utrecht Universeit. Ya, dl aku ingin kuliah d universitas tertua d Belanda, Leiden Universeit tp, tampak'y aku malah hrs bljr pd Frudental. Oh, RME. . .RME. . .dan RME.
Hr ini pertanyaan pertama adlh, "ben je asielzoeker?" pertanyaan ini muncul mungkin krn aku berdandan biasa2 sj dan berkerudung. Sebal benar rasanya! "dasar otak penjajah," makiku dlm hati. Aku langsung m'jwb agak ketus pd perempuan yg brtanya pd ku, "sorry mevrouw, ik ben Indisch. . .weet je dat vroeger Nederlands pakt alles van mij land. . ." smbl berbalik badan dan b'jln menjauh dr'y. Puas skali. Bahkan aku hampir tak sadar bs mengeluarkan kata2 mcm itu.
Spulang kuliah aku lapar skali. Rasanya enak menyantap masakan Umair tp ktika aku plg tak ada satupun makanan yg terhidang. "apa sj yg km lakukan d rmh? Tdk masak? Aku lapar!" ucapku agak kesal.
Umair hny senyum2 smbl m'jwb, "aku hny mnunggumu plg"
"ah, tdk akan kenyang dg senyumanmu"
"ayo kt kluar. Makan malam d luar sj," Umair menarik tanganku keluar Mainsonette, "yang pasti kejutan. Romantis. Km pst suka"
"heh?" aku heran, "tnggu. . ." aku menarik tanganku dr genggaman Umair dan berhenti melangkahkan kaki.
"ayo. . .percaya pd ku" Umair b'kata smbl mrangkul bahuku. Kali ini akt tdk bs apa2 tp, aku sll pcy pd nya. Lalu dia mlanjutkan lg, "nnt. . .sblm kt plg k Indonesia kt akn pergi k Barcelona dlu"
"hmm. . ." jwb ku smbl t'syum bhagia. "ke Green Gables jg ya!"
"heh, dasar bnyk maunya"
"biar. Krn permintaan pergi ke Green Gables hny ku tujukan pd mu. Kalau k Barcelona tak apalah d ajak org lain.hahaha..."
kami berdua b'jln d malam hr d bwh bintang yg bertaburan smbl bergandengan tangan. Kanal2 d spanjang jalan memantulkan cahaya bulan yg indah. "kau bahagia?" tanya Umair.
"ya"
Mendamba Bunga di Taman Macan Ali
Saat semua mahasiswa berhamburan keluar kampus Gadis itu malah menerobos arus. Ia masuki bangunan yang menjemukan dan terlampau sunyi. Mungkin karena malam minggu akan datang beberapa jam lagi maka aktivitas akademis enak untuk cepat-cepat dienyahkan dari kepala mahasiswa.
Ada apa dengan Gadis itu? Hatiku penuh seribu tanya terhadapnya. Tanpa ia tahu aku mengikutinya dari belakang. Aku tak habis pikir sesore dan sesepi ini ia menuju lantai tiga sendirian. Ia keluarkan kursi dari ruang paling ujung lalu duduk di sudut balkon. Aku tetap penasaran dg apa yg akan dia lakukan.
Aku hanya bisa mengamati sang Gadis dari jauh. Pandangannya menerawang jauh di hamparan langit sore. Lalu aku melihat air matanya meleleh sambil membaca Al Quran. Aku tetap mengamatinya dan semakin takjub. Gadis itu. . .tiba2 memejamkan mata sambil menyenandungkan doa pada Tuhannya.
Ditengah keterpesonaanku pada Gadis muda itu aku dikagetkan oleh suara dari belakang. "hey, apa yang kau lakukan? Mengintip!" sergah suara yg tak asing bagiku menghakimi.
Aku kaget dan mengelak dg tergagap, "o. . .ya. . .anu. . .aku . . .cuma. . .cuma . . .mau tahu apa yg ia lakukan Macan Ali"
"oalah pembelaan. Dasar pemuda badung," Macan Ali menyudutkan.
"hey, jangan keras2 nanti Gadis itu tahu aku melakukan kekonyolan ini. Sttt. . . Pelan bicaranya," aku berbicara setengah berbisik sambil menempatkan jari telunjuk di bibir.
"hmm. . ." macan ali sepakat.
Tiba2 Gadis itu bangkit dari kursinya lalu berjalan melalui Aku dan Macan Ali. "huh. . .ketahuan. Pasti" ucapku dlm hati. Ya Allah. . .Gadis itu cantik sekali.
"ah, kau terpesona padanya," Macan Ali menuduh tajam dan aku hanya tersenyum kering mendengar ucapan itu.
Tak menunggu aku berkomentar Macan Ali berkata lagi, "Gadis yang baru lewat tadi adalah satu diantara bunga-bunga terbaik di taman kandangku"
"benarkah?" Tanyaku penasaran pada Macan Ali.
"tentu saja" jawab Macan Ali tegas "tapi jumlah yang sejenis itu sedikit. Hanya puluhan diantara ribuan"
"oh. . .sesedikit itu? Bagaimana bisa aku mendapatkannya?"
"hahaha. . . ." Macan Ali tertawa "jadi kau mendambakannya?"
"ya," jawabku malu dg muka merah padam.
"hey, pemuda. Kau perlu modal untuk menghirup wangi bunga terbaik di tamanku"
"apa?" tanyaku tergesa dan penasaran. "otak brilian? Istana indah? Atau mahar jutaan?"
"ah, kau ini. . . Sepertinya kau pemuda yang serakah benar"
"lalu apa?"
"agamamu. . .keimanan dan ketaqwaanmu," Macan Ali menegaskan penuh penekanan sementara aku terdiam tanpa kata.
"bahkan BIDADARI PUN CEMBURU PADANYA?" aku bertanya pd Macan Ali sambil menahan air mata.
"ya. Baik pemuda . . . Aku harus keliling memeriksa kandang2ku" Macan Ali berkata sambil lalu dari hadapanku.
Rasanya angin sore ini begitu menyayat hatiku. Kemilau surya senja seolah air garam yang dipercikan pada luka di sekujur badan. Pelabuhan hati begitu sulit untuk didapatkan. Belum lagi aku bukan aktifis dakwah kampus. Pastilah aku tak masuk kriteria Gadis itu tapi ya Allah. . .aku punya niat suci padanya walau dg segala kekurangan yg aku punya. Kali ini aku yg terpejam sambil memanjatkan doa.
Ada apa dengan Gadis itu? Hatiku penuh seribu tanya terhadapnya. Tanpa ia tahu aku mengikutinya dari belakang. Aku tak habis pikir sesore dan sesepi ini ia menuju lantai tiga sendirian. Ia keluarkan kursi dari ruang paling ujung lalu duduk di sudut balkon. Aku tetap penasaran dg apa yg akan dia lakukan.
Aku hanya bisa mengamati sang Gadis dari jauh. Pandangannya menerawang jauh di hamparan langit sore. Lalu aku melihat air matanya meleleh sambil membaca Al Quran. Aku tetap mengamatinya dan semakin takjub. Gadis itu. . .tiba2 memejamkan mata sambil menyenandungkan doa pada Tuhannya.
Ditengah keterpesonaanku pada Gadis muda itu aku dikagetkan oleh suara dari belakang. "hey, apa yang kau lakukan? Mengintip!" sergah suara yg tak asing bagiku menghakimi.
Aku kaget dan mengelak dg tergagap, "o. . .ya. . .anu. . .aku . . .cuma. . .cuma . . .mau tahu apa yg ia lakukan Macan Ali"
"oalah pembelaan. Dasar pemuda badung," Macan Ali menyudutkan.
"hey, jangan keras2 nanti Gadis itu tahu aku melakukan kekonyolan ini. Sttt. . . Pelan bicaranya," aku berbicara setengah berbisik sambil menempatkan jari telunjuk di bibir.
"hmm. . ." macan ali sepakat.
Tiba2 Gadis itu bangkit dari kursinya lalu berjalan melalui Aku dan Macan Ali. "huh. . .ketahuan. Pasti" ucapku dlm hati. Ya Allah. . .Gadis itu cantik sekali.
"ah, kau terpesona padanya," Macan Ali menuduh tajam dan aku hanya tersenyum kering mendengar ucapan itu.
Tak menunggu aku berkomentar Macan Ali berkata lagi, "Gadis yang baru lewat tadi adalah satu diantara bunga-bunga terbaik di taman kandangku"
"benarkah?" Tanyaku penasaran pada Macan Ali.
"tentu saja" jawab Macan Ali tegas "tapi jumlah yang sejenis itu sedikit. Hanya puluhan diantara ribuan"
"oh. . .sesedikit itu? Bagaimana bisa aku mendapatkannya?"
"hahaha. . . ." Macan Ali tertawa "jadi kau mendambakannya?"
"ya," jawabku malu dg muka merah padam.
"hey, pemuda. Kau perlu modal untuk menghirup wangi bunga terbaik di tamanku"
"apa?" tanyaku tergesa dan penasaran. "otak brilian? Istana indah? Atau mahar jutaan?"
"ah, kau ini. . . Sepertinya kau pemuda yang serakah benar"
"lalu apa?"
"agamamu. . .keimanan dan ketaqwaanmu," Macan Ali menegaskan penuh penekanan sementara aku terdiam tanpa kata.
"bahkan BIDADARI PUN CEMBURU PADANYA?" aku bertanya pd Macan Ali sambil menahan air mata.
"ya. Baik pemuda . . . Aku harus keliling memeriksa kandang2ku" Macan Ali berkata sambil lalu dari hadapanku.
Rasanya angin sore ini begitu menyayat hatiku. Kemilau surya senja seolah air garam yang dipercikan pada luka di sekujur badan. Pelabuhan hati begitu sulit untuk didapatkan. Belum lagi aku bukan aktifis dakwah kampus. Pastilah aku tak masuk kriteria Gadis itu tapi ya Allah. . .aku punya niat suci padanya walau dg segala kekurangan yg aku punya. Kali ini aku yg terpejam sambil memanjatkan doa.
Membunuh Penderitaan
Atap seng rumah ini benar-benar menggoreskan infeksi yang tak bisa lg disembuhkan. Aku pikir aku bisa tetap bertahan menanti senja yang indah. Tapi, rupa-rupanya semua kamuflase itu harus berakhir. Berakhir karena aku benar-benar telah membunuh penderitaan ini dg tanganku sendiri. Inilah pemberontakan yang tertahan selama seperlima abad. Kini. . . Aku merdeka!!!
Sekarang aku tidak lg menanti senja. Aku lelah dan kalah. Oh, kemerdekaan. Baiklah aku mulai semuanya dari kehancuran.
"hey Gadis, benar semuanya?" Kuntowijoyo mengejar aku yang membawa banyak sekali buku.
"ya," jawabku datar
"mimpimu? Sudah tidak punya cita tuk berguru pada Frudental di Utrecht? Atau sekedar pergi ke kota tempat melabuhkan mimpimu?" Kuntowijoyo seolah meragukan keputusanku.
Aku membelalakkan mata. Menatap lekat mata tuanya yang penuh provokasi atas keputusan kehidupanku, dg amarah aku berkata "persetan dg mimpi2 itu. Aku tidak peduli." ku katakan lg padanya dg suara yg sedikit terkendali, "sudah tidak ada lg senja pak. Sekarang aku menunggu pagi. Disanalah harapanku. Tolong jangan ikuti aku lg. Aku ingin sendiri. Aku mohon... " aku pun berjalan maju tanpa menoleh sedikitpun pd Kuntowijoyo yg berdiri di belakangku yang tak lg melangkah mengikutiku.
Semua akan baik-baik saja. Aku bisa!! Aku bisa melupakan desain hidup yang selama ini kujadikan peta. Aku akan merancang peta baru yang tak penuh kesombongan dan keegoisan. Aku harus memikul beban sekarang. Mengkandaskan mimpi demi kebahagiaan orang2 yang tercinta ternyata menyakitkan hati. Kenapa? Kenapa aku masih juga sulit merelakan semuanya.
Bagaimana ini Rindu? Kau mungkin tahu arti linangan air mata ini walau tanpa ada kata tuk menjelaskan. Dan kau Cinta. . .akan tetap menjadi penghibur di sela-sela kepiluan. Dan untukmu, Umair. . .aku tidak akan pergi bersamamu menuju kota itu. Kau boleh mengatakan aku kalah tapi aku memilih kebahagiaan dg melepaskan diri dari rumah bocor itu.
Aku sedang tidak terpuruk juga tidak sedang putus asa. Aku hanya sedikit sedih dan banyak menangis. Dan untuk saat-saat seperti ini tak ada teman terbaik selain Engkau, Robby. . .
Sekarang aku tidak lg menanti senja. Aku lelah dan kalah. Oh, kemerdekaan. Baiklah aku mulai semuanya dari kehancuran.
"hey Gadis, benar semuanya?" Kuntowijoyo mengejar aku yang membawa banyak sekali buku.
"ya," jawabku datar
"mimpimu? Sudah tidak punya cita tuk berguru pada Frudental di Utrecht? Atau sekedar pergi ke kota tempat melabuhkan mimpimu?" Kuntowijoyo seolah meragukan keputusanku.
Aku membelalakkan mata. Menatap lekat mata tuanya yang penuh provokasi atas keputusan kehidupanku, dg amarah aku berkata "persetan dg mimpi2 itu. Aku tidak peduli." ku katakan lg padanya dg suara yg sedikit terkendali, "sudah tidak ada lg senja pak. Sekarang aku menunggu pagi. Disanalah harapanku. Tolong jangan ikuti aku lg. Aku ingin sendiri. Aku mohon... " aku pun berjalan maju tanpa menoleh sedikitpun pd Kuntowijoyo yg berdiri di belakangku yang tak lg melangkah mengikutiku.
Semua akan baik-baik saja. Aku bisa!! Aku bisa melupakan desain hidup yang selama ini kujadikan peta. Aku akan merancang peta baru yang tak penuh kesombongan dan keegoisan. Aku harus memikul beban sekarang. Mengkandaskan mimpi demi kebahagiaan orang2 yang tercinta ternyata menyakitkan hati. Kenapa? Kenapa aku masih juga sulit merelakan semuanya.
Bagaimana ini Rindu? Kau mungkin tahu arti linangan air mata ini walau tanpa ada kata tuk menjelaskan. Dan kau Cinta. . .akan tetap menjadi penghibur di sela-sela kepiluan. Dan untukmu, Umair. . .aku tidak akan pergi bersamamu menuju kota itu. Kau boleh mengatakan aku kalah tapi aku memilih kebahagiaan dg melepaskan diri dari rumah bocor itu.
Aku sedang tidak terpuruk juga tidak sedang putus asa. Aku hanya sedikit sedih dan banyak menangis. Dan untuk saat-saat seperti ini tak ada teman terbaik selain Engkau, Robby. . .
Menanti Senyum Umair
Begini, aku tak pandai membuat kejutan, perhatian atau apa-apa yang dapat melukiskan kebahagiaan untukmu. Selama ini kamu saja yang lebih banyak membuat bibirku tersenyum simpul. Kau memang tega. Kau begitu tega Umair. . .Kau memang harus tahu tentang ini. Apa maksudmu mengirim sms yg mengatakan bahwa kau sedang menungguku dirumah? Dengan tergesa ku coba untuk cepat2 pulang. Malang benar aku ini. . .selalu saja berhasil kau kerjai. Dan itu cukup menjadi pelajaran terbaik ttg caramu menggodaku.
Saat aku akan mempresentasikan karya yang sangat instan kau pun masih tega menggodaku. Kau bilang, "aku ada di lantai bawah. Sekarang kau pasti ada di lantai dua kan?" hem, sekarang aku tak bodoh2 amat. Aku balas pesan singkatmu, "lantai bawah mana? Lantai bawah rumah, kampus atau apa?"
akhirnya kau ngaku juga. Kau ada di sudut bumi berbeda. Sudah puas menggodaku? aku pun bisa sedikit menggodamu. Aku bilang, "aku tdk betah ada di sini"
"kenapa?" kau bertanya penuh perhatian.
"karena di sini tak ada bau surga. Tidak ada cinta kasih karena Illahi disini" aku jawab pertanyaannya dan ternyata jawaban itu berhasil membuatmu keGRan. Aku tertawa senang.
Tenang saja profesor yang menguji baik2 kok. Satu lagi aku bisa konsultasi gratis dg psikolog. Ya, untuk mengetahui aku masih waras atau sudah setengah gila.
Tidak tahu kenapa kau mendominasi pikiranku hari ini. Apa tidak boleh aku sedikit perhatian? Iya, itu memang bukan karakterku. Aku tahu itu tapi, tolonglah jangan membuatku patah semangat belajar menjadi orang yang sedikit perhatian. Itu susah payah aku lakukan. Asal kau tahu saja. Itu benar2 susah untukku.
Ada apa? Percaya padaku. Katakan apa yang ingin kau kisahkan. Masih percaya padaku bukan? Apa selama ini kau pernah mendapati semua hal yang kau ceritakan padaku diketahui orang lain? Tidak Umair. Aku menyimpannya rapat dihatiku, untukmu. Dan kota itu. . .akan kita jelajahi bersama. "Tunggulah aku di kota itu. Tempat labuhkan semua mimpiku. . ." begitulah musisi menulis lirik indah tentang harapan menggapai kota impian. Bukan blue mountain, paris, vinice, atau barcelona tapi kota yang hanya dimengerti kita berdua. Kau tahu? Setiap aku membaca tulisan2mu aku bisa tertawa bahkan menangis sendirian. Sebenarnya ada satu hal yang ingin ku minta. Bagaimana ya? Aku malu mengatakannya, "tersenyumlah untukku Umair..."
Saat aku akan mempresentasikan karya yang sangat instan kau pun masih tega menggodaku. Kau bilang, "aku ada di lantai bawah. Sekarang kau pasti ada di lantai dua kan?" hem, sekarang aku tak bodoh2 amat. Aku balas pesan singkatmu, "lantai bawah mana? Lantai bawah rumah, kampus atau apa?"
akhirnya kau ngaku juga. Kau ada di sudut bumi berbeda. Sudah puas menggodaku? aku pun bisa sedikit menggodamu. Aku bilang, "aku tdk betah ada di sini"
"kenapa?" kau bertanya penuh perhatian.
"karena di sini tak ada bau surga. Tidak ada cinta kasih karena Illahi disini" aku jawab pertanyaannya dan ternyata jawaban itu berhasil membuatmu keGRan. Aku tertawa senang.
Tenang saja profesor yang menguji baik2 kok. Satu lagi aku bisa konsultasi gratis dg psikolog. Ya, untuk mengetahui aku masih waras atau sudah setengah gila.
Tidak tahu kenapa kau mendominasi pikiranku hari ini. Apa tidak boleh aku sedikit perhatian? Iya, itu memang bukan karakterku. Aku tahu itu tapi, tolonglah jangan membuatku patah semangat belajar menjadi orang yang sedikit perhatian. Itu susah payah aku lakukan. Asal kau tahu saja. Itu benar2 susah untukku.
Ada apa? Percaya padaku. Katakan apa yang ingin kau kisahkan. Masih percaya padaku bukan? Apa selama ini kau pernah mendapati semua hal yang kau ceritakan padaku diketahui orang lain? Tidak Umair. Aku menyimpannya rapat dihatiku, untukmu. Dan kota itu. . .akan kita jelajahi bersama. "Tunggulah aku di kota itu. Tempat labuhkan semua mimpiku. . ." begitulah musisi menulis lirik indah tentang harapan menggapai kota impian. Bukan blue mountain, paris, vinice, atau barcelona tapi kota yang hanya dimengerti kita berdua. Kau tahu? Setiap aku membaca tulisan2mu aku bisa tertawa bahkan menangis sendirian. Sebenarnya ada satu hal yang ingin ku minta. Bagaimana ya? Aku malu mengatakannya, "tersenyumlah untukku Umair..."
Manipulasi Cinta
Gadis muda itu terusir dari rumah. Tak habis pikir keputusannya pindah keyakinan. Maminya tak setuju apalagi papinya. Keputusannya sangat melukai hati kedua orang tuanya. Papua itu. . .menjadi saksi butiran air mata yg keluar. Ini benar2 kesedihan yang dalam.
Gadis berkulit putih, tinggi dan hidung yang mancung itu pergi meninggalkan rumah bahkan pulau itu. Sudah tak diterima lg ia dirumah. Papinya yang keturunan Belanda tak mempedulikan lagi. Maminya yg keturunan cina tak lg memberikan kasih sayang. Natalie. . .itulah ibuku. Tentu saja namanya kini bukan lagi Natalie.
Sebenarnya aku hendak kecewa pada kebohongan bertahun-tahun yang disimpan rapat oleh ibu, bapak, dan nenek kakek dari pihak bapak. Kalian tahu? Aku tidak dilahirkan di Cirebon. Sialan dg akte kelahiran. Pantas saja aku baru punya dokumen itu saat aku akan masuk SMA dan proses pembuatannya sangat berbelit-belit. Menyakitkan!! Sangat sakit!! Karena kenyataan ini baru ku tahu di usia 21th. Aku ingin menangis. Ingin marah. Kecewa. Semuanya campur jadi satu.
Aku. . .selalu merasa bahwa aku keturunan Indonesia. Akhirnya aku baru mengerti sekarang. Ya, saat tmn2 SMP bertanya, "kamu islam? Benar?" mereka tak percaya. Mungkin karena warna kulit dan rambutku yang tak sama dg mrk. Bahkan aku dipanggil guru BP dan guru itu mengintrogasiku tiada henti. Aku ingin menangis saat itu. "aku islam pak. . .aku tidak bohong," aku menjawab sambil menangis. Ini semua dilakukan krn sekolahku pny pengalaman tak mengenakkan. ada anak non-muslim yg mengaku muslim. Krn percaya ket.anak mk jd lah anak itu bljr agama spt anak2 lainnya, agama islam. Setelah hampir 3th br diketahui org tua si anak bahwa ank'y bljr agama yg tdk sesuai dg keyakinannya. Sekolah jd dipermasalahkan. Dan kalian tahu? Aku ikut kena imbasnya. Sial benar.
Kawan-kawanku selalu bilang, "bule. . .bule. . .bule kampung" padaku.
Dan betapa tak mengenakkan saat adik2 kelas berbisik, "eh . . .ada kakak bule. Itu. . .lagi jalan kesini," aku benci bisikan mereka yang terlewat keras. Aku dengar sangat jelas rumpian mereka. Aku ingin berkata keras-keras pada mrk, "AKU KETURUNAN INDONESIA!!!"
Kesal. Kesal. Kesal. Itulah yang aku rasa. Dan rasa kesal membuatku menyendiri dikamar sambil membaca buku. Aku suka bc buku2 islami walau aku belum berhijab kala itu.
SMA. Saat masuk SMA inilah aku rubah warna rambutku menjadi hitam. Tdk lg kecoklatan. Aku merasa terlihat lebih Asia sekarang walau warna kulitku masih dicurigai bnyk orang krn putih pucat. Kalian tahu? Dalam hatiku terselip keinginan yang ingin kumantapkan. Sebuah indentitas baru. Agar tak diragukan lagi keislamanku. Dan tak akan main2 kulakukan niatku. Telah bnyk ku baca buku ttg hal ini. Dan Quran surat an-nuur sll membuatku tersedu. Ayat-ayatnya seolah memprokasi diri melakukan apa yg telah ku niatkan. Akhirnya. . .aku pun berhijab. Tidak transparan. Tidak ketat. Dan menutup dada. Kelas 3SMA itu. . . . dg membaca basmalah aku tak lg mengumbar aurat. Aku Islam. Jangan panggik aku bule lagi karena aku Gadis Indah Pertiwi, itulah namaku. Akui aku sebagai warga ISLAM INDONESIA.
Akhirnya, tak ada lagi panggilan 'bule' yg tertuju padaku saat aku duduk di bangku kuliah. Tak ada yang curiga. Hanya sebagian kecil. Ya, kira-kira 0,0001% saja yg curiga mengenai keturunan mana aku ini. Hanya yg cermat saja yg akan melihat sesuatu yang aneh padaku. Mungkin karena postur tubuh warisan Bapakku yg keturunan Indonesia.
Di Cirebon ini. . .akhirnya aku merasa punya bnyk saudara. Tak lg merasa sendiri. Karena keluarga ibu telah pulang kembali ke Belanda dan ibu sudah mereka lupakan. Bapak? Cuma anak tunggal yg tak pny saudara. Nenek dan Kakek dari pihak bpk sudah tiada. Aku beruntung memiliki kalian. . .saudara seimananku. . .saudara seperjuanganku. Tak kupikirkan dan tak ingin ku tahu lagi keluarga ibu di Belanda yang mengirim kaos dan rok panjang hitam buatan Paris saat usiaku 20th. Aku bahagia hdp di Indonesia walau rumahku bocor dan hdp serba pas2n.
Ah, ibu. . .pantas kau pandai benar membuat masakan2 eropa. Dan crt2mu ttg pesawat terbang, colombo, napenee, dll seolah2 hidup dan pernah kau alami sendiri. Aku pikir ibu menceritakan ulang buku2 yg pnh dibaca ternyata ibu benar2 pernah melakukan semua itu. Pantas. . .foto ibu muda sangat berbeda. Waktu kulitnya msh pth dan tubuhnya masih langsing. Semua seolah penuh manipulasi. Biarlah... Aku terlanjur cinta ada disini. Memandang laut jawa dari gunung jati. Dari tanah sunan nan memikat hati.
Gadis berkulit putih, tinggi dan hidung yang mancung itu pergi meninggalkan rumah bahkan pulau itu. Sudah tak diterima lg ia dirumah. Papinya yang keturunan Belanda tak mempedulikan lagi. Maminya yg keturunan cina tak lg memberikan kasih sayang. Natalie. . .itulah ibuku. Tentu saja namanya kini bukan lagi Natalie.
Sebenarnya aku hendak kecewa pada kebohongan bertahun-tahun yang disimpan rapat oleh ibu, bapak, dan nenek kakek dari pihak bapak. Kalian tahu? Aku tidak dilahirkan di Cirebon. Sialan dg akte kelahiran. Pantas saja aku baru punya dokumen itu saat aku akan masuk SMA dan proses pembuatannya sangat berbelit-belit. Menyakitkan!! Sangat sakit!! Karena kenyataan ini baru ku tahu di usia 21th. Aku ingin menangis. Ingin marah. Kecewa. Semuanya campur jadi satu.
Aku. . .selalu merasa bahwa aku keturunan Indonesia. Akhirnya aku baru mengerti sekarang. Ya, saat tmn2 SMP bertanya, "kamu islam? Benar?" mereka tak percaya. Mungkin karena warna kulit dan rambutku yang tak sama dg mrk. Bahkan aku dipanggil guru BP dan guru itu mengintrogasiku tiada henti. Aku ingin menangis saat itu. "aku islam pak. . .aku tidak bohong," aku menjawab sambil menangis. Ini semua dilakukan krn sekolahku pny pengalaman tak mengenakkan. ada anak non-muslim yg mengaku muslim. Krn percaya ket.anak mk jd lah anak itu bljr agama spt anak2 lainnya, agama islam. Setelah hampir 3th br diketahui org tua si anak bahwa ank'y bljr agama yg tdk sesuai dg keyakinannya. Sekolah jd dipermasalahkan. Dan kalian tahu? Aku ikut kena imbasnya. Sial benar.
Kawan-kawanku selalu bilang, "bule. . .bule. . .bule kampung" padaku.
Dan betapa tak mengenakkan saat adik2 kelas berbisik, "eh . . .ada kakak bule. Itu. . .lagi jalan kesini," aku benci bisikan mereka yang terlewat keras. Aku dengar sangat jelas rumpian mereka. Aku ingin berkata keras-keras pada mrk, "AKU KETURUNAN INDONESIA!!!"
Kesal. Kesal. Kesal. Itulah yang aku rasa. Dan rasa kesal membuatku menyendiri dikamar sambil membaca buku. Aku suka bc buku2 islami walau aku belum berhijab kala itu.
SMA. Saat masuk SMA inilah aku rubah warna rambutku menjadi hitam. Tdk lg kecoklatan. Aku merasa terlihat lebih Asia sekarang walau warna kulitku masih dicurigai bnyk orang krn putih pucat. Kalian tahu? Dalam hatiku terselip keinginan yang ingin kumantapkan. Sebuah indentitas baru. Agar tak diragukan lagi keislamanku. Dan tak akan main2 kulakukan niatku. Telah bnyk ku baca buku ttg hal ini. Dan Quran surat an-nuur sll membuatku tersedu. Ayat-ayatnya seolah memprokasi diri melakukan apa yg telah ku niatkan. Akhirnya. . .aku pun berhijab. Tidak transparan. Tidak ketat. Dan menutup dada. Kelas 3SMA itu. . . . dg membaca basmalah aku tak lg mengumbar aurat. Aku Islam. Jangan panggik aku bule lagi karena aku Gadis Indah Pertiwi, itulah namaku. Akui aku sebagai warga ISLAM INDONESIA.
Akhirnya, tak ada lagi panggilan 'bule' yg tertuju padaku saat aku duduk di bangku kuliah. Tak ada yang curiga. Hanya sebagian kecil. Ya, kira-kira 0,0001% saja yg curiga mengenai keturunan mana aku ini. Hanya yg cermat saja yg akan melihat sesuatu yang aneh padaku. Mungkin karena postur tubuh warisan Bapakku yg keturunan Indonesia.
Di Cirebon ini. . .akhirnya aku merasa punya bnyk saudara. Tak lg merasa sendiri. Karena keluarga ibu telah pulang kembali ke Belanda dan ibu sudah mereka lupakan. Bapak? Cuma anak tunggal yg tak pny saudara. Nenek dan Kakek dari pihak bpk sudah tiada. Aku beruntung memiliki kalian. . .saudara seimananku. . .saudara seperjuanganku. Tak kupikirkan dan tak ingin ku tahu lagi keluarga ibu di Belanda yang mengirim kaos dan rok panjang hitam buatan Paris saat usiaku 20th. Aku bahagia hdp di Indonesia walau rumahku bocor dan hdp serba pas2n.
Ah, ibu. . .pantas kau pandai benar membuat masakan2 eropa. Dan crt2mu ttg pesawat terbang, colombo, napenee, dll seolah2 hidup dan pernah kau alami sendiri. Aku pikir ibu menceritakan ulang buku2 yg pnh dibaca ternyata ibu benar2 pernah melakukan semua itu. Pantas. . .foto ibu muda sangat berbeda. Waktu kulitnya msh pth dan tubuhnya masih langsing. Semua seolah penuh manipulasi. Biarlah... Aku terlanjur cinta ada disini. Memandang laut jawa dari gunung jati. Dari tanah sunan nan memikat hati.
Langganan:
Postingan (Atom)
