bukan bintang yang paling terang bag. 1

Serbuk sari tlah jatuh pada putik mengizinkan buah bergelayutan di antara dedaunan. Memberikan sedikit rezeki pada tupai yang lapar dg buah pemberian Tuhan Yang Pengasih.

Tak ada titi-titik hujan. Hanya angin kering yang berhembus sedari tadi. Pelangi pun tak tampak sejauh ini. Namun terlihat sosoknya tlah lama berjalan untuk mencari sesuatu. Terus saja ia menyusuri jalan untuk dapatkan kepastian. Diantara tumpukan ketakberdayaannya ia, tak pernah berhenti mengarungi padang impian...berjalan penuh keyakinan dengan balutan senyum manis di ujung bibirnya.

Lalu. . .
Sejenak ada yang memanggilnya, "hei kau yang berjalan kemari!!"

la menoleh. Datang menghampiri sang rupawan. "ada apa kau panggil diriku?"

"kemarilah sebentar. Ku lihat wajahmu begitu lelah. Badanmu terlihat payah. Aku ingin sekali mengajakmu duduk untuk melihat birunya laut di atas karang yang indah"

ia diam sejenak.

"Pikirkan ajakan ku. Jika kau ragu berdirilah disitu sambil berfikir apa yang akan kau putuskan", tawar sang rupawan

sejenak ia terdiam. Bertanya dalam hati nurani yang tak bisa membohongi diri. Ia berhenti lama. Berdiri dalam ketidakpastian. Mencari keputusan bagi dirinya. Antara melihat birunya laut atau berbalik lagi untuk melanjutkan perjalanannya di padang mimpi.

Tiba-tiba ada cicit burung menyapa, "nanti dulu"

ia menoleh pada burung yang bertengger di rindangnya pohon harapan. "apa maksudmu?"

"kau mengerti apa yang ku maksud",balas burung

ia semakin terdiam. Tertunduk. Tidak kuat lagi berdiri. Duduk dengan mendekap dua kakinya yang gemetar. Air mata jatuh berhamburan diiringi derai hujan yang tiba-tiba datang membasahi tubuhnya. Hatinya penuh kecamuk dan penuh limpahan kegelisahan. Ia utarakan untaian duka pada Sang Kuasa dengan penuh kepasrahan.

Hujan pun reda. Menampakkan spektrum warna penuh pesona,pelangi. Melingkar menghiasi langit. Tangisnya berhenti. Ia angkat kembali wajahnya. Ia pandang langin nan indah. Senyum kembali terlihat di wajahnya. Sambil mengusap air mata ia kembali bangkit.

"Tlah kutemukan apa yang kumau",gumamnya dalam hati

lalu ia panggil sang rupawan. Setengah berteriak karena jarak yang cukup jauh, "aku tak bisa melihat birunya laut bersamamu. Ada yang lebih penting dari itu. Mohon maaf. Mungkin kau akan menemukan orang lain yang bisa kau ajak kesana" ia memutar badannya ke arah semula sambil melambaikan tangan "sampai jumpa"

angin berhembus dengan syahdu mengiri ia berjalan menapaki padang impian. Sebuah harapan yang belum terjawab akan ia lewati.

Sang rupawan melihatnya berjalan menjauh. Punggungnya tak terlihat lagi. Lenyap!!

Ia berdendang dengan lahkah-langkah penuh harapan. Berjalan penuh rasa optimis walau ia sadar pasti akan ada rintangan menghadang yang tak ia tahu seperti apa bentuk dan rupa rintangan selanjutnya
##########

kini ia berjalan lagi tuk arungi mimpi sambil mengembangkan senyum namun sunyi.........
ia susuri padang mimpi dengan alunan angin dan henbusan debu.

tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang telah menyentuh jemarinya. lembut. sangat lembut!!!! setengah tak percaya dengan apayang dia alami. "mungkin saja ini cuma kyalalanku atas ribuan sepi yang ku jalani", ujarnya

tapi ini benar-benar terasa." bukan! ini bukan mimpi!!! aku mampu merasakan kelembutan telah menyentuh jemari ini", ia meyakinkan diri sambil menoleh ke arah samping berharap itu memang bukan mimpi.

"aku ingin menemanimu menapaki padang impian hingga kau temui kepastian. aku ingin ada di sampingmu saat senyum dan tawa terlukis di wajahmu namun, aku juga ingin ada di dekatmu saat air mata jatuh di pipimu lalu aku akan menyekanya", ucap tangan lembut lirih

"benarkah?"

"tentu saja. aku akan ada namun tak selalu", balasnya meyakinkan

"apa maksudmu, ada namun tak selalu?"

"kawan, akan ada dukungan dan semngat dariku namun tak selalu aku ada di dekatmu"

"lalu untuk apa kau menawarkan diri menemaniki jika seperti itu?"

"aku yakin kau tahu maksudku!!!"

ia terdiam. mencerna kata-kata tangan lembut. dalam hati ia berkata," ya setiap jiwa memang tidak sama. itu adalah keniscayaan yang tak kan terelakkan. jika selalu sama untuk apa ia ada. sama saja aku sendiri jika begitu."
ia balas genggaman tangan lembut dengan erat. menerima tawarannya. kini ia tak lagi sendiri. ada yang menemani. dalam langkah-langkahnya ada candan tawa. tangis dan duka yang bisa di bagi dalam mengukir mimpi.

kini ia dapat berbincang tentang pelita malam
duduk bersama menanti senja
dan menyambut embun pagi yang tak pernah suram

ya, mimpi layaknya songketan benang wol yang tersusun rapi dan indah bila telah jadi. tak pernah putus hanya saja akan terurai jika tertarik sehingga butuh di rajut ulang dengan kesabaran.
ia mampu berdendang dengan suara alto dan sopran yang sedikit bervariasi. bukan lagu mendunia yang penuh khayalan yang mereka dendangkan namun, lagu impian yang tertulis lirik-lirik harapan.

mereka berdua tak tahu pasti siapa yang akan melepaskan genggaman erat itu pertama kali. tangan lembut ataukah ia sendiri. yang pasti....
ia dapat berbagi
mengurangi jatah roti karena harus terbagi
tetes-tetes air yang mennyusut debitnya kini....
namun itu bukanlah masalah yang berarti karena ada yang mau ia ajak berbagi.....

bulan berganti
tahun brlalu.....mengungkap semua asa dalam diri dua orang pemimpi
nyatalah kini, ia telah lelah. semangatnya hampir tak ada. ia mulai melepaskan genggaman tangan lembut, " wahai kawan aku begitu merindukan orang yang terkasih. aku ingin memberi jeda pada jiwa yang telah payah ini. aku ingin menemui orang yang terkasih. aku tak ingin kau menunggu. teruslah kau berjalan bahkan berlari. aku akan bahagia jika kau telah sampai menjemput impian." sambil merbalik badan ia pergi meninggalkan tangan lembut. berharap ia tak melihat air mata berderai di pipinya. bodoh memang karena kawannya itu pasti tahu bahwa ada tetes air mata jatuh di atas tanah yang kering.

tapi sungguh janji itu terus terpatri. tangan lembut tak sedih sedikitpun atas perpisahan yang terjadi. ia bertahan. tak bergeming. tetap berdiri. tak bergeser satu inci pun.
bulan berganti hingga bunga bersemi ia menunggu dalam keteromban-ambingan. ia begitu yakin bahwa kawannya akan kembali menggenggam tangan lembutnya.

di tempat lain, di sudut bumi yang berbeda ia temui orang terkasih yang selama ini ia rindukan. ia ingin menceritakan segala duka. ia ingin memeluk tubuhnya dan berseder di bahunya sampai dewi mimpi datang menghampiri. dan saat ia telah bersender di pundaknya ia, tak mampu berkata. bibirnya kelu. tak ada getaran pita suara. sunyi. "aku tak mungjin menceritakan ini padamu. aku tak rela jika kau juga ikut menaggung derita yang ku alami. aku ingin tersentuh oleh dewi mimpi. membiarkan diri berkelana di alam mimpi di atas pundak bidangmu. lalu dalam mimpi itu aku ceritakan segala duka pada bintang namun, BUKAN BINTANG YANG PALING TERANG", lirihnya dihati. biarkan Sang Penguasa mimpi yang tahu.

pemilik pundak nampaknya telah lelah menayandarkan pundaknya. setengah tak tega membangunkan ia yang tengah bermandi mimpi, " bangunlah....aku sanagt lelah!!!!", sambil membelai rambutnya

ia tersadar. membenarkan posisi kepala sambil berkata, "nampaknya aku sudah membaik"

"bagus kalu begitu. apa yang akan kau kerjakan sekarang?"
"'aku akan melanjutkan menapaki mimpi"

"TERUSKANLAH"

"TENTU SAJA. AKAN AKU TERUSKAN demi kau dan demi diriku sendiri....", jawabnya sambil memeluk tubuh orang yang begitu ia kasihi.





ia tata kembali langkahnya. hmmm.....apa lagi yang akan ia lakukan?????

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger