Aku kesal harus keluar malam2 hny untuk membeli susu.Kesal tp tetap sj aku lakukan.Bkn krn ingin beli tp harus beli.Sebelum pergi aku tny pd smua org d rmh,"mau d belikan apa?" lalu daftar makanan yg harus ku beli langsung berjejer.
21.30 tepat aku keluar rmh sendirian.Sepi. Sangat sepi.D jalanan nyaris tak ada org.Yg tersisa hny lah anjing2 milik penduduk yg berkeliaran mlm hari, penjaga konter dan tentu saja penjaga warung tempat aku membeli susu.
"Ah, sial! rumah itu ramai dg pemabuk", aku mengeluh dlm hati. Walau pun aku sangat yakin pemabuk2 itu tdk akan melakukan apa2 pd ku tp aku sangat malas melihat mereka.Maka saat aku harus melintasi kerumunan pemabuk lengkap dg kartu remi dan musik kencang aku, melihat ke atas langit atau menatap lurus kedepan mengalihkan pandangan dr mrk. Tepat dugaanku.Salah satu dr mereka menyapa aku, "gadis mau kemana malam2?"
sudahlah. Aku terlalu mahir menghadapi mrk, "biasa mas belanja. Duluan mz". Aku jwb dg nada yg akrab.
Keamananku pasti terjamin. Krn pemabuk dan pereman macam mrk pny kesolidan kelompok yg luar biasa. Aku sering pny pengalaman bnyk dg mrk. Ya,saat plg tll malam dr aktivitas kampus mk mrk yg akan mengawalku tepat sampai d depan pintu rmh. Jk ibu atau bpk sdh membukakan pintu untukku mk mrk langsung prg. Ibu atau bpk sll blg, "trimakasih" pd mrk kl itu terjadi. Dan para pemabuk itu msh mampu menjawab, "sama2". Rasanya aku di kawal pengawal secara cuma-cuma. Trakhir kali hal itu terjadi saat aku hrs plg tengah malam saat penghitungan suara pilpresma 09.
Melihat mrk aku jd ingat kejadian td pagi saat aku berangkat kuliah dan bertemu dg preman yg kata org2 paling sangar. Tangan preman itu penuh dg tato. Rambut gondrong d kepang d belakang. Ia menyapaku, "brangkat kuliah gadis?"
"iya mz anton", aku jwb dg nada bersahabat. Ju2r saja dia tdk pnh berkata kasar kpd ku. Aku cukup akrab dg nya. Saat SMP aku sering ngobrol atau bercanda dg nya. Kini kepremanannya telah d makan usia. Menurutku wajahnya kini tak memperlihatkan kesangaran. Umurnya skitar 37an skrg. Jk bertemu dg nya dia sll bertanya ttg janda tua yg rmh nya tak jauh dr rmh ku, "gmn kbr bu niti? Sehat tdk gadis?". Itu adalah pertanyaan yg sll ia katakan jk bertemu dg ku. Tetap saja dia adalah org yg memiliki rasa kasih sayang kawan. Dan aku tak akan menilai sangat buruk thdp mz anton. Sampai akhirnya aku th skrg dia bekerja d salah satu bengkel yg terdapat d jalan cipto. Aku srg melihatnya bekerja saat aku lalui jalan menuju kampusku. Aku senang kalau melihatnya. Setidaknya aku dpt tersenyum dg perubahannya.
Aku sampai jg d warung yg kutuju. Aku beli apa2 yg hrs aku beli dan langsung bergegas pergi stelah sdikit basa-basi.
"udah blanjanya?",sapa mereka lg saat aku hrs lewat jalan itu lg.
"beres bos!",aku jwb.
Aku tdk ingin merusak malamku. Aku rasa malam ini indah dg langit yg cerah dan bulan yg cantik walau bintang pelit bertaburan. Inilah Kuasa Robb Penguasa Alam.
Aku berjalan pulang dg belanjaan d tangan. Berjalan sendiri seperti itu rasanya sangat menenangkan dan menyenangkan. Itulah sebabnya aku lbh suka pergi ke toko2 buku atau melihat apa pun yg ingin aku lihat sendirian krn mengajak org lain yg tdk satu selera kadang sangat merusak suasana. Dan aku muak jk terganggu.
Aku jd terkenang akan keberuntungan seorang bocah SMA yg kena palak pereman. Ketika anak itu sdg d desak untuk memberikan harta yg ia bawa d pojok toserba aku turun dr angkot tepat d depan mereka. Preman itu serba salah melihatku. Tentu saja aku kenal betul dg preman itu. Sejurus kemudian ia kembalikan dompet anak SMA td. Aku tetap berdiri disitu. Aku menunggu preman itu melepas anak SMA yg berdiri d sampingnya dg muka yg sangat ketakutan dan membuatnya terlihat tak enak d pandang. Dan benar dia disuruh pergi oleh preman itu. Nama preman itu tepat nya aku tak th syp tp aku serig mendengar dia dipanggil doko oleh kawan2y.
Sblm prg belanja td ada sempat anak tetangga yg datang kerumah untuk belajar matematika. Kami mempelajari persamaan garis yg menyita waktu 2jam krn dia tak paham operasi antara bilangan positif dan negatif. Aku pikir dia terseok-seok mengikuti bab ini d sekolah krn nya aku akan sangat senang jk dia tak segan2 datang lg. Akan ku buang jauh2 jk kelelahan datang menghujam ragaku. Aku ingin dia paham dan bisa. Itu saja.
Ketika aku masuk rumah jam sdh menunjukkan pukul 22.00. Aku baca bk yg ingin ku baca atau membuka puisi yg aku suka sbg pengusir lelah sambil santai, membuka akun fb, berkirim surat elektronik dg kawan2ku, dan sama sekali tdk memposting tulisan2 baruku d blog enam bulan ini. Aku melakukan semua itu dan tdk th knp perutku tiba2 sangat lapar.
Jam 24.00 aku minum segelas susu hangat dan tdk berani minum kopi krn tubuhku sangat reaktif dg kopi. Jk aku paksa minum kopi maka pasti aku tak akan tdr semalaman.Dan kawan2 kuliah, cool in near akan bertanya, "td mlm tdr brp jam?" jk mataku berkantung. Pertanyaan pertemanan yg manis. Tp mataku tetap berkantung jd mrk tdk lg bertanya. Bosan mungkin.
seberkas senja pengantar malam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar