ENDAPAN CINTA


Siang itu mentari tak menyengat. Langit diliputi awan gelap saja. sungguh tak ada pendar biru yang menandakan kehangatan. Gelap!! Langit bukan saja murung tapi ia menangis sejadi-jadinya. Kau tahu? Masa macam itu membuat niat mengkerut atau kerontang saja dalam kedipan mata. Cobalah simak baik-baik saat macam itu.

Tapi kenapa burung kecil masih juga bernyanyi? Atau kita tak begitu pandai memahami? Iya!! Kita tak juga bisa mengerti. Apa lagi memahami. Akui saja jika hatimu menjerit penuh nanar. Tak usah dipendam dalam-dalam. Kau tahu? Karena bola matamu yang hitam bercerita sedetail-detailnya tentang keadaan jiwamu yang tak karuan. Tidak!! Tidak ada yang menyuruhmu berpeluh pilu. Ingat saja kata-kata sastrawan itu,
“seperti burung-burung yang mencicit atau bernyanyi, sama saja baginya apakah itu suatu duka atau suka. Setiap suara burung adalah nyanyian.”
(kuntowijoyo, 1970: 77)
Ah….sudahlah. hiduplah layaknya orang hidup. Kembangkan payung cintamu lalu langkahkan kaki karena hakikatnya hidup adalah gerak. Jangan berfikir!! Sekali-kali jangan. Jika kau ajak dirimu berfikir maka kau akan merasakan rasanya terpenjara oleh pikiran-pikiranmu.

Kau mau tahu siapa kamu? Ha…ha…ha… janganlah berkelakuan seperti badut. Jalankan peranmu. Itu saja. kau hanyalah bagian dari alam raya ciptaanNya. Sudah!! Tidak ada yang menyuruhmu berpikir kawan!! Jelek sekali mukamu jika kau paksa juga. Masih juga kau tak percaya?? Oh kawan… jagad raya itu luas dan kau masih juga bertanya siapa dirimu? Sekali lagi kembangkan payung cintamu.

Saat langit menangis pilu kau harus tetap gembira. Tak usah turut lara karena tangisan langit adalah bahagia pula. Rayakanlah seperti amfibi yang merayakan tetesan air mata dengan nyanyian suka cita. Itulah kemerdekaan!!! Merdeka dari jajahan kolonialis Jepang dan Belanda. Merdeka dari derita. Hidup yang merdeka. Rayakan maka kau akan raih ketenangan seperti burung melayang di langit bulan Juni yang dihiasi awan putih yang tipis.

Kau melangkahkan kakimu yang kurus dibawah payung cintamu. Bibirmu itu indah rupanya. Merah warnanya. Tesenyum pula…. Malaikat jadi terpikat olehnya. Bertasbih malaikat tiada henti-hentinya. Memuji….
Memuji siapa?
Bukan memujimu tapi memuji Dia.
Janganlah kau teriakkan duka diatas bumi. Dibawah kakimu itu ada harta karun yang tak perlu kau tangisi tapi, cukup genggam saja ditanganmu. Jangan selipkan dihatimu.
Payung cintanya terbang…..

Payung cintanya terbang disapu badai. Kemana hendak ditemukan lagi? Mata tak dapat melihat. Tertutup oleh kabut gelap. Dipaksa juga mencari kuat-kuat. PARAH!! Tak ditemukan hingga detik yang belum ada penghabisan.
Kau bilang, “tanya satpam!”
Satmam menjawab, “tak ku genggam”
Kau bilang, “tanya tukang sapu”
Tukang sapu menjawab, “mana kutahu”
Lalu… kemana lagi harus mencari payung cinta yang hilang itu? Jika saja 1000 payung mahal terjejer di hadapan mata yang telah sayu maka masih juga memilih payung cinta itu.

Payung cinta darimu yang kau berikan dengan rasa cintamu itu entah ditangan siapa. Diperlakukan sepeti apa dia? Ada sebuah harapan datang dari angin utara.
Di tangan siapapun ia semoga payung cinta yang telah lenyap dari genggaman dapat menaungi pemakainya.
Kenapa?
Ku bilang, “disana ada sejarah cinta penuh pesona. Dirajut dengan canda dan amarah. Amarah cinta kawan. Dibalut dengan tawa dan air mata. Air mata cinta.

Kenapa juga harus pilu? Masih ada pundakmu yang bisa kugunakan untuk bersandar. Masih ada pelukan darimu. Masih ada marah cintamu. Jika hujan datang lagi maka, cintamu yang langsung menaungiku. Disaat kau naungi aku dengan cintamu maka akan kubalas dengan tatapan lekat. Memelukmu erat dibawah gerimis yang memikat di tengah taman mawar yang segera kita tinggalkan. Dan akan kubisikkan,
“AKU BANGGA MENCINTAI DAN DICINTAIMU”
Apa reaksimu?
Kau hanya tersenyum saja. tak berkata apa-apa.
Kunikmati senyummu. Kuartikan senyum itu seperti,

Kamus Empat Kata Berhuruf Awal G, 1

GALAS: bukan jauh jarak yang menakutkan, bukan? Tapi
Seberat apa kau buat beban, di pundak, dan tak ada
Yang hendak diletak, tak ada yang boleh kau serak.
Perjalanan sendiri telah kau mulai sejak kaki bergerak,
Sejak nafas disentak. Sejak kau ukur seberapa tinggikah puncak.
Jadi bukan jauh jarak yang menakutkan, bukan?

GALIAS: kau belum sampai, ini seperti mulai yang lagi mulai,
Ada perahu bertiang tiga, ada samudra seluas tujuh wasangka,
Kau belum sampai, pelabuhan ramai memang membuai,
Rumah dikenang rumah dijelang, diantar badai ke badai,

GANCANG: ada yang mesti lekas kau buat tuntas, sebelum
Tanganmu tak lagi tangkas, sebelum langkah tinggal kulai,
Sebelum nafas sisa sengal, ada yang harus segera kau
Bikin selesai, sebelum waktu habis mengukur umur.

GALIR: lalu tingal sisa hari yang cair, kau duduk mengenang
Semua kenang, bentang petang amat lapang, semerbak gelak,
Kau lihat sepasang sepatu tua di rak, jaket koyak. Topi lecak,
“lihat…” kau tunjukkan tongkat kayu ke kaki langit.
(hasan Aspahani. 2009: 23)
Ah kau, tertawa terpingkal oleh puisi yang ku baca. Kau bilang, “apa peduliku dengan puisi yang kau bacakan? Aku hanya peduli denganmu.”
“ha…ha….ha…” aku pun tertawa



****untuk seseorang yang sangat berkesan dipertemuan pertama. Pertemuan yang tak akan pernah disesali. Trimakasih payung cintanya.****

idul fitri di desaku yang kucinta

Seperti layaknya malam idul fitri pada umumnya,alunan takbir menggema dari masjid dan mushola-mushola kampung. Malam yang cukup meriah jika dibandingkan malam-malam lainnya. Anak2 kecil larut dalam kegirangannya.begitu juga pemuda desa (saya dirumah saja,pen). Orang-orang hilir mudik tuk membayar zakat. Malam yg indah. GROGOL benar-benar tak sepi karena ada takbir keliling tiap tahunnya. Kata adikku tercinta, "i sekarang takbirannya sampe klayan tahu!".hmm. . .ini jarang terjadi karena biasanya cuma keliling kampung.

Gema takbir terus saja mengalun. . .

Tak terasa si fajar di hari nan fitri tampak mempesona. Rupa-rupanya ia tak mau kalah dengan semangat penduduk desa yang pergi untuk solat ied. Sumua diajak. Sampai-sampai habis anggota keluarga di rumah. Semuanya pergi ke masjid. Ada yang berangkat pagi-pagi buta saking semangatnya.
Sholat pun berlangsung sangat syahdu meski ada saja tangisan balita.
Stelah sholat usai maka tradisi di desaku adalah keliling kampung tuk saling bersalam-salaman. Biasanya berkelompok. Saya tetap pilih dirumah. Menunggu rombongan-rombongan datang. Dan benar saja banyak. Biasanya yang paling heboh kelompok laki-laki RT01. Dan ibu sy juga bilang, "warga RT01 emang semangat tiap tahun tuk keliling bersalam-salaman"

hari nan fitri mengalir begitu indah. . .

Malam pun datang lagi. Masih suasana idul fitri. Tak paham dengan apa yang terjadi tiba-tiba ada suara teriakan laki-laki. . .sangat keras!!
Saya berfikir, ah paling tukang mabok yang lagi ngoceh nggak karuan.

Tak dinanya desaku gempar dengan kepulangan pelaku mutilasi yang sudah pulang kerumah. Saya baru tahu malam ini dari status fb kawan-kawan satu desa.
Benar rupanya. Huff suara sirine menukik. Mengusik ketenangan malam. Mungkin juga ada suara, dor dor dor tapi saya tidak dengar. Pemuda dan bapak-bapak berjaga. Kali aja "...ada penyusup..." (kata alfian di statusnya). Lembur!! Polisi menyisir. Katanya 5 orang tertangkap (saya tidak tahu jelas). Suasana desa malam ini benar-benar mencekam. Saya benar-benar tidak bisa mendeskripsikannya. Jam 23.00 hari minggu,20 september 2009 ku tulis kisah ini. Ah, akhirnya terdengar juga suara "DOR!!" sampai saya kaget...


Dan malam pun tetap berlanjut. Suara sirine dan tembakan pun mungkin akan terdengar lagi.

Akhirnya harus bisa tidur dengan alunan sirine dan suaran senapan. Ini sudah kesekian kalinya aku alami jadi santai saja.

Untuk pemuda grogol, selamat lembur. . .

Untuk aparat selamat bertugas semoga misinya cepat usai. . .

Untuk para ibu, saya yakin kalian cemas memikirkan anak laki-laki kalian. Berdoa ya bu. . .

Dan,
mohon maaf lahir dan batin.

Ya ROBBY, ampuni kesalahanku, kesalahan kedua orang tua ku,saudara2ku, saudara2 seperjuangan, dan seluruh umat islam khususnya umat islam GROGOL.amin

malam. . .akan tetap berjalan dengan kisahnya. Semoga ada hikmah yang dapat mencerahkan dan ada akhir yang membahagiakan.


-KUTULIS PENUH DEDIKASIH UNTUK SEBUAH DESA TEMPATKU TUMBUH-

¤mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan¤

bukan bintang yang paling terang bag. 2

Ia tatap sinar mentari yang memasuki jendela hatinya. Burung gereja menemani pancaran sinar mentari dengan nyanyian paling merdu di hari ini. Pagi ini jiwanya terasa tenang sesejuk udara pagi dan sebening embun penghias taman hati. Ia hadapkan tubuhnya pada mentari yang bersinar sambil memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Pagi yang amat indah untuk dilewatkan.

Ia akan berlari kencang menyusul tangan lembut yang dulu pernah ia tinggalkan. Akan ia genggam lagi tangannya. Berbunga-bunga sudah hatinya karena ia akan merajut mimpi yang sempat tertunda karena terkalahkan oleh rasa rindu yang tak mampu ia redam.

"padang impianku aku, melihat padang itu makin indah," ia berkata dalam hati sambil tetap menikmati sejuknya pagi.

Di tempat penantian tangan lembut terus bertahan menunggu. Air matanya berderai-derai. "aku kuat! Aku bisa bertahan! Aku kuat!! Aku akan setia menunggumu kawan!!" ia berkata pada dirinya sendiri. Air matanya semakin kencang bercucuran, "ada apa ini? Aku bilang aku kuat!" ucapnya memberontak pada raganya yang diremas malaikat maut.
Badai salju yang teramat dingin menerpanya berhari-hari. Tubuhnya kurus dan ringkih. Ada warna merah menetes di atas salju yang putih. Darah menetes dari hidungnya. Terus bercucuran. Ia makin kencang menangis. Tubuhnya berguncang. Ia terjatuh. Lunglai di atas tumpukan salju. Matanya merah. Pikirnya jauh melayang teringat janji pada kawannya, "oh. . .kawan, sedang apa kau sekarang? Kenapa kau biarkan aku begitu lama menantimu. Aku setia menantimu disini tapi Allah, Tuhanku agaknya merindukanku pula. Dia menginginkan aku segera pulang padaNya. Maafkan aku karena aku tak kan mampu lagi menemanimu mengarungi padang impian yang ku janjikan," ucapnya merana.

"Robby. . .sepertinya bukan lagi warna putih salju yang aku pandang tapi gelap yang sangat pekat. Tubuhku pun terasa ditusuk ribuan pedang. Aku pulang. . ." tangan lembuh pasrah

Badai makin kencang seolah-olah ikut berkabung atas kepulangan tangan lembut. Alam pun sunyi. Tubuh tangan lembut tergeletak di atas salju nan putih. Darah yang keluar dari hidungnya membeku oleh salju yang telah tenjadi es.

Sang kawan yang dinanti tangan lembut sedang berdendang sambil berlari untuk merajut mimpinya lagi. Langkahnya tidak secepat kecepatan cahaya. Ia hanya mampu berlari layaknya manusia biasa yang mencoba menjadi manusia yang luar biasa. Langkahnya makin dekat pada tempat yang mempertemukannya dengan tangan lembut. Ia lewati pula tempat pertemuan itu. Ia tersenyum. "kawan aku kembali menemuimu. Kita tapaki lagi padang impian," ujarnya bahagia. Ia makin kencang berlari. Makin rindu ia pada sang kawan yang pernah ia bagi tentang kisah-kisah riang dan pilu.

Badai salju. Ia menatap badai salju pada retina matanya. Dingin menusuk tulang tapi, ia tak jua surut. Melangkah. Terus melangkah menerjang badai yang terkalahkan oleh azzam yang menancap kuat.

Tiba-tiba ia berhenti. Badannya gemetar. Ia berharap matanya telah rusak sehingga tidak bisa melihat keadaan dengan benar. Ah, itu nyata. Matanya baik-baik saja. Ia berlari mendekati warna merah yang sudah beku. Ia terpukul bukan main. Ia berteriak kencang, "aaaaa. . . ." sambil menumpuhkan dirinya pada kedua lututnya. Air matanya tak terbendung lagi. Terus berderai sambil mengangkat kepala tangan lembut ke pangkuannya. Kerinduannya pada tangan lembut tercabik-cabik oleh keadaan kawannya yang telah kaku.

Keriangan pagi tadi menguap sudah. "kawan. . .apa Sang Kuasa begitu merindukanmu hingga aku temui kau seperti ini?" ucapnya terisak, "siapa yang menemaniku merenda jalan hingga ku genggam mimpiku? Dulu kau pernah berbisik padaku bahwa di suatu pagi salah satu dari kita mati maka sampai jumpa di kehidupan yang lain. Dan kata-katamu nyata kini. Kau menunggu aku dimana? Firdaus atau Darussalam?" ia makin terisak.

"baiklah. . .aku ikhlas. Dulu kau pernah meyakinkan aku bahwa kau akan selalu ada namun tak selalu. Akhirnya aku mampu memaknai ucapanmu dengan sangat sempurna dihadapan ragamu yang tak bernyawa sekarang!" ia berkata dengan tenang. Ia sudah menguasai dirinya lagi.

Ia akan lanjutkan lagi perjalanannya mengarungi padang impian. Tak ada lagi kawan tapi, dalam bait-bait hidupnya pernah tertulis tentang kesetiaan tangan lembut.

KEPEDIHAN APA LAGI YANG AKAN IA HADAPI DALAM MENGARUNGI PADANG IMPIANNYA?. . .

bukan bintang yang paling terang bag. 1

Serbuk sari tlah jatuh pada putik mengizinkan buah bergelayutan di antara dedaunan. Memberikan sedikit rezeki pada tupai yang lapar dg buah pemberian Tuhan Yang Pengasih.

Tak ada titi-titik hujan. Hanya angin kering yang berhembus sedari tadi. Pelangi pun tak tampak sejauh ini. Namun terlihat sosoknya tlah lama berjalan untuk mencari sesuatu. Terus saja ia menyusuri jalan untuk dapatkan kepastian. Diantara tumpukan ketakberdayaannya ia, tak pernah berhenti mengarungi padang impian...berjalan penuh keyakinan dengan balutan senyum manis di ujung bibirnya.

Lalu. . .
Sejenak ada yang memanggilnya, "hei kau yang berjalan kemari!!"

la menoleh. Datang menghampiri sang rupawan. "ada apa kau panggil diriku?"

"kemarilah sebentar. Ku lihat wajahmu begitu lelah. Badanmu terlihat payah. Aku ingin sekali mengajakmu duduk untuk melihat birunya laut di atas karang yang indah"

ia diam sejenak.

"Pikirkan ajakan ku. Jika kau ragu berdirilah disitu sambil berfikir apa yang akan kau putuskan", tawar sang rupawan

sejenak ia terdiam. Bertanya dalam hati nurani yang tak bisa membohongi diri. Ia berhenti lama. Berdiri dalam ketidakpastian. Mencari keputusan bagi dirinya. Antara melihat birunya laut atau berbalik lagi untuk melanjutkan perjalanannya di padang mimpi.

Tiba-tiba ada cicit burung menyapa, "nanti dulu"

ia menoleh pada burung yang bertengger di rindangnya pohon harapan. "apa maksudmu?"

"kau mengerti apa yang ku maksud",balas burung

ia semakin terdiam. Tertunduk. Tidak kuat lagi berdiri. Duduk dengan mendekap dua kakinya yang gemetar. Air mata jatuh berhamburan diiringi derai hujan yang tiba-tiba datang membasahi tubuhnya. Hatinya penuh kecamuk dan penuh limpahan kegelisahan. Ia utarakan untaian duka pada Sang Kuasa dengan penuh kepasrahan.

Hujan pun reda. Menampakkan spektrum warna penuh pesona,pelangi. Melingkar menghiasi langit. Tangisnya berhenti. Ia angkat kembali wajahnya. Ia pandang langin nan indah. Senyum kembali terlihat di wajahnya. Sambil mengusap air mata ia kembali bangkit.

"Tlah kutemukan apa yang kumau",gumamnya dalam hati

lalu ia panggil sang rupawan. Setengah berteriak karena jarak yang cukup jauh, "aku tak bisa melihat birunya laut bersamamu. Ada yang lebih penting dari itu. Mohon maaf. Mungkin kau akan menemukan orang lain yang bisa kau ajak kesana" ia memutar badannya ke arah semula sambil melambaikan tangan "sampai jumpa"

angin berhembus dengan syahdu mengiri ia berjalan menapaki padang impian. Sebuah harapan yang belum terjawab akan ia lewati.

Sang rupawan melihatnya berjalan menjauh. Punggungnya tak terlihat lagi. Lenyap!!

Ia berdendang dengan lahkah-langkah penuh harapan. Berjalan penuh rasa optimis walau ia sadar pasti akan ada rintangan menghadang yang tak ia tahu seperti apa bentuk dan rupa rintangan selanjutnya
##########

kini ia berjalan lagi tuk arungi mimpi sambil mengembangkan senyum namun sunyi.........
ia susuri padang mimpi dengan alunan angin dan henbusan debu.

tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang telah menyentuh jemarinya. lembut. sangat lembut!!!! setengah tak percaya dengan apayang dia alami. "mungkin saja ini cuma kyalalanku atas ribuan sepi yang ku jalani", ujarnya

tapi ini benar-benar terasa." bukan! ini bukan mimpi!!! aku mampu merasakan kelembutan telah menyentuh jemari ini", ia meyakinkan diri sambil menoleh ke arah samping berharap itu memang bukan mimpi.

"aku ingin menemanimu menapaki padang impian hingga kau temui kepastian. aku ingin ada di sampingmu saat senyum dan tawa terlukis di wajahmu namun, aku juga ingin ada di dekatmu saat air mata jatuh di pipimu lalu aku akan menyekanya", ucap tangan lembut lirih

"benarkah?"

"tentu saja. aku akan ada namun tak selalu", balasnya meyakinkan

"apa maksudmu, ada namun tak selalu?"

"kawan, akan ada dukungan dan semngat dariku namun tak selalu aku ada di dekatmu"

"lalu untuk apa kau menawarkan diri menemaniki jika seperti itu?"

"aku yakin kau tahu maksudku!!!"

ia terdiam. mencerna kata-kata tangan lembut. dalam hati ia berkata," ya setiap jiwa memang tidak sama. itu adalah keniscayaan yang tak kan terelakkan. jika selalu sama untuk apa ia ada. sama saja aku sendiri jika begitu."
ia balas genggaman tangan lembut dengan erat. menerima tawarannya. kini ia tak lagi sendiri. ada yang menemani. dalam langkah-langkahnya ada candan tawa. tangis dan duka yang bisa di bagi dalam mengukir mimpi.

kini ia dapat berbincang tentang pelita malam
duduk bersama menanti senja
dan menyambut embun pagi yang tak pernah suram

ya, mimpi layaknya songketan benang wol yang tersusun rapi dan indah bila telah jadi. tak pernah putus hanya saja akan terurai jika tertarik sehingga butuh di rajut ulang dengan kesabaran.
ia mampu berdendang dengan suara alto dan sopran yang sedikit bervariasi. bukan lagu mendunia yang penuh khayalan yang mereka dendangkan namun, lagu impian yang tertulis lirik-lirik harapan.

mereka berdua tak tahu pasti siapa yang akan melepaskan genggaman erat itu pertama kali. tangan lembut ataukah ia sendiri. yang pasti....
ia dapat berbagi
mengurangi jatah roti karena harus terbagi
tetes-tetes air yang mennyusut debitnya kini....
namun itu bukanlah masalah yang berarti karena ada yang mau ia ajak berbagi.....

bulan berganti
tahun brlalu.....mengungkap semua asa dalam diri dua orang pemimpi
nyatalah kini, ia telah lelah. semangatnya hampir tak ada. ia mulai melepaskan genggaman tangan lembut, " wahai kawan aku begitu merindukan orang yang terkasih. aku ingin memberi jeda pada jiwa yang telah payah ini. aku ingin menemui orang yang terkasih. aku tak ingin kau menunggu. teruslah kau berjalan bahkan berlari. aku akan bahagia jika kau telah sampai menjemput impian." sambil merbalik badan ia pergi meninggalkan tangan lembut. berharap ia tak melihat air mata berderai di pipinya. bodoh memang karena kawannya itu pasti tahu bahwa ada tetes air mata jatuh di atas tanah yang kering.

tapi sungguh janji itu terus terpatri. tangan lembut tak sedih sedikitpun atas perpisahan yang terjadi. ia bertahan. tak bergeming. tetap berdiri. tak bergeser satu inci pun.
bulan berganti hingga bunga bersemi ia menunggu dalam keteromban-ambingan. ia begitu yakin bahwa kawannya akan kembali menggenggam tangan lembutnya.

di tempat lain, di sudut bumi yang berbeda ia temui orang terkasih yang selama ini ia rindukan. ia ingin menceritakan segala duka. ia ingin memeluk tubuhnya dan berseder di bahunya sampai dewi mimpi datang menghampiri. dan saat ia telah bersender di pundaknya ia, tak mampu berkata. bibirnya kelu. tak ada getaran pita suara. sunyi. "aku tak mungjin menceritakan ini padamu. aku tak rela jika kau juga ikut menaggung derita yang ku alami. aku ingin tersentuh oleh dewi mimpi. membiarkan diri berkelana di alam mimpi di atas pundak bidangmu. lalu dalam mimpi itu aku ceritakan segala duka pada bintang namun, BUKAN BINTANG YANG PALING TERANG", lirihnya dihati. biarkan Sang Penguasa mimpi yang tahu.

pemilik pundak nampaknya telah lelah menayandarkan pundaknya. setengah tak tega membangunkan ia yang tengah bermandi mimpi, " bangunlah....aku sanagt lelah!!!!", sambil membelai rambutnya

ia tersadar. membenarkan posisi kepala sambil berkata, "nampaknya aku sudah membaik"

"bagus kalu begitu. apa yang akan kau kerjakan sekarang?"
"'aku akan melanjutkan menapaki mimpi"

"TERUSKANLAH"

"TENTU SAJA. AKAN AKU TERUSKAN demi kau dan demi diriku sendiri....", jawabnya sambil memeluk tubuh orang yang begitu ia kasihi.





ia tata kembali langkahnya. hmmm.....apa lagi yang akan ia lakukan?????

menikmati senja besamanya

Kali ini aku ingin berjalan. Seorang diri saja. Ada kisah yg ingin ku bagi dg derap2 langkah yg gontai. Sampai aku sendiri tak sadar mata dan hidung merona. Angin ba'da asyhar yg romantis mengiringi...

Aku tak tahu sudah brapa lama berjalan. Jam5. Sudah jam5. Aku ingin cepat2 pulang. Ingin menatap langit jingga di teras rumah sederhanaku yg berhadap2n dg matahari terbenam di hamparan padi nan hijau.

"beca?" mang sidiq menawari

"tidak", jwb ku singkat

aku berharap dirumah meriah dg tawa adik2ku, manjanya ayah, dan senyum bunda tercinta. Aku ingin tergelam dlm kebersamaan drmh yg bocor sana sini kalau hujan datang. Tapi aku senang kalau toh hujan datang. Itu rezeki Allah yg dg nya pucuk2 batang dan biji2n tumbuh.

Beberapa langkah lg akan segera kulihat puisi yg plg indah itu, Keluarga.

Namun. . .
Sepi. Tak ada seorang pun disana. Aku masuk rumah. Merebahkan diri sebentar. Ku putar lagu rindu yg iwan fals dendangkan.

Aku du2k di teras. Sendiri saja. Ingin menikmati potret alam di senja yg mempesona.

"sendiri saja gadis?" sapa seorang bpk sambil du2k jg d teras rumahku

aku menengok sambil menjawab "ya" pd nya.

Asing. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya.

"sudahlah gadis. . .bpk th apa yg kau rasakan. Bahagia kau gadis?"

aku diam. Memandang langit jingga yg indah di ufuk barat.

"dia pakai baju apa gadis?"

"putih",aku jwb smbl tetap memandang ke ufuk barat

"suka kau?"

"entahlah. Tdk th pak! Dia tersenyum sedikit padaku kala itu"

"aku kuntowijoyo" ia memperkenalkan diri lalu berkata lagi "maaf gadis bpk tdk bs menuliskan sesuatu untukmu. Waktuku telah habis untuk menggoreskan pena di atas daun lontar", pandangnya menerawang ke langit jingga

"apa masa muda bpk seperti kisah2 drunken?" tanyaku

"ah kau menggoda bpk rupanya gadis. . ." sambil tertawa ia jwb pertanyaanku

"suka kau dg pidi?"

"dia sering membuatku tersenyum tanpa beban pak. . .apa itu bs dibilang suka?"

"bgmn rasanya?"

"indah mungkin. . ."

"kamu ini aneh gadis. Indah tp kok mungkin"

"aku menunggu sesuatu pak. . ."

"apa?",kuntowijoyo bertanya pd ku. Menengok ke arahku smbil mengernyitkan dahi.

"sebentar pak. Aku mau matikan musik dulu. Baru aku jwb", kataku

"jangan. Biarkan saja. Bpk jg sdg rindu dg masa2 muda bpk", beliau mencegahku "jadi apa yg kau tunggu itu gadis?"

"bpk mau th? puisi indah buatan bpk",aku jwb.

"hahaha. . .",beliau tertawa "kau ini gadis! Senang sekali mencandai bpk. Tdk bisa. . ." katanya

"kenapa?"

"karena pena bpk sudah habis gadis"jwb beliau

aku diam. Sedih rasanya di senja ini mendengar jwb'n itu.

"kau mau puisi? Biar bpk carikan org yg pandai membuat puisi untukmu", beliau mengHiburku.

Aku tersenyum. "ah, bpk bisa saja. Kali ini bpk yg mencandaiku" kataku pd beliau

"gadis, sudah sore bpk mau kembali ke peraduan" beliau pamit "assalamu'alaikum"
sambil bangkit dr du2knya.

"wa'alaikum salam. Hati2 pak",aku pun berdiri dan melihat beliau berjalan makin jauh.

Aku kembali msk rmh. Kumatikan musik yg telah usai mengalunkan lagu rindu. Aku ambil sebuah buku. Di balik sampul buku itu dikatakan bahwa kuntowijoyo telah ada di dunia ketiga. "lalu td? Siapa? Benar kuntowijoyo?" aku tertegun. Tersenyum. Indahnya berbincang bersama beliau di penggal senja.

"ada tamu tadi?"ibu bertanya yg aku tak th kapan datangnya

dengan senyum ku jawab pertanyaan ibu.

"Ye, ni anak ditanya kok malah senyum", ibu protes

"susah untuk dijelaskan ibu ku tercinta. . . ", ucapku sambil ku peluk tubuh wanita yg kucintai.

TAMAT

penantian di ujung senja

Pesona jingga di ufuk barat rumah bocorku rupa-rupanya begitu membiusku. Kali ini kuntowijoyo tdk bertandang di teras rumahku. Aku pun sdg tdk berselera du2k di teras. memandang keluar dr jendela kamar itu yg kupilih sekarang. Adegan ini mengingatkanku dg kisah "card captor sakura" yg aku dan kedua sahabat kecilku sukai. Kalian sdg apa skrg? Aku menunggu kbr dari negeri para nabi yg kau jajaki. Aku jg menunggu kabar dr jawa tengah yg kau tempati...
Ada rindu yg menusuk sembilu kawan. . .aku ingin sekali memainkan permainan khas kita bertiga jika berjalan beriringan. Lihatlah kini. . .tidak ada lg yg membuka lembaran2 rahasia d sudut kamar. Tdk ada tawa lepas di hamparan sawah di bulan juni,september, dan desember.

Lalu ada nomer asing hinggap di ponselku. Berharap itu darimu. Tapi bukan!! Ini dari negri serumpun yg selalu berSelisih dg pertiwiku. Ah, org ini pandai sekali mendeteksi nomerku. Padahal, sudah 3 thn kuganti nomer ponsel lamaku. Aku tdk perlu berlama-lama berbincang dg orang ini. Segera ku matikan stelah berkilah dg alasan yg membenarkanku menyudahi obrolan membosankan ini.

Aku kembali teringat kepada dua kawanku itu. Tdk th kenapa rasanya dada ini penuh oleh mereka hari ini. Ada apa dg kalian?

". . .tiga orang sahabat .belajar di perguruan ninjutshu sbg murid ninja boy. Cita-citanya sungguh tinggi sekali apa pun dia hadapi. . .walau pun penuh bermacam rintangan tak gentar dlm hatinya. . ."
aku rindu menyanyikan lagu itu bersama kalian. Yg aku ingat kita begitu bersemangat mendendangkan'y ketika masih kanak2.

Tiga hari berlalu.
Ada nomer asing menghampiri ponsel hitamku lagi. Aku tahu ini pun nomer luar negeri. Aku pun tak yakin ini pangGilan dr kau kawan. Aku angkat. Sedikit malas karena msh ingin berselimut mimpi. Tp agaknya itu tlp penting. Panjang. . .tak kunjung usai. Aku pasrah. Ku angkat.

"hei, sdg apa se? Lama skali angkat tlp nya", suara kasar terdengar dr seberang sana

"di sini masih pagi buta. Mau apa?", ku jawab dg jengkel

"sudah, dengarkan saja ceritaku kali ini", ia memaksa dan aku lagi2 pasrah "hari ini aku tonjok muka bos ku yg menjengkelkan. Huh. . .kelakuanku ini membuatku dimaki habis2n", lani melanjutkan ceritanya

aku tertawa mendengar itu. Ia lanjutkan lg bicara, "bgm rencana study mu? Jd ke leiden university?"

"harusnya jadi", aku jwb singkat

kali ini aku tak bnyk bicara. Malas!! Lani yg lbh bnyk bicara.

"apa kbr dia?",kali ini kata2 nya sudah jauh dr amukan

"mona apa lisa?", tanyaku

"tak perlulah kau permalukan aku dg pertanyaan seperti itu. Tolong sampaikan padanya aku akan segera datang", bualannya mulai diluncurkan

"TIDAK!!" kataku "tdk mau aku turut campur untuk hal macam itu.

"telpon dr siapa. . . (ti2k maksudnya adalah panggilan sayang keluarga pd ku)", ibu bertanya agak berteriak. Rupa2y beliau th aku sdg asyik ngobrol.

"lani telpon bu. . .mau ngobrol nggak?", aku menawarkan ibu untuk berbincang dg lani.

"iya. . .iya kasih ke ibu", suara lani sdkt merengek. Memaksaku berjalan dan memberikan hp pd ibu

hp langsung saja ibu sambar. Akrab benar ibu dg lani. Aku cuma du2k dan menonton ibu yg larut dg lani. Biasalah. . .ibu tak lupa menyelipkan kebiasaan burukku dan Mengumbar keinginan2ku jg pd lani. Aku yakin mereka berdua senang mentertawakanku. Aku rebut kembali tlp dr ibu.

Kali ini ada kabar yg menyentak dr lani, "aku akan kirim formulirnya smg kau mendapati mimpimu. Ok? . . .sampai jumpa", ia tU2p tlpn.

Lani? Dia. . .
Aku tdk bs berkata-kata. Aku th maksudnya. Kau buat aku tersenyum seperti kata erros candra.

Lani membuatku menunggu. Kiriman darinya adalah mimpi2ku.

Sampai detik ini aku menunggu. Itu pula yg aku katakan pada kuntowijoyo, "aku sedang menunggu pak. . ."

Agak nya rinduku ini terobati. Malam ini datanglah kabar dr kawanku itu. Kabar mengenai skripsi yg membuatnya putus asa. Aku berpikir jangan2 ia ambil judul yg tak main2 yg dl pernah ia loNtarkan langsung padaku. Dia memang luar biasa. Tdk mau asal2an. Ingin benar2 berkarya.

Aku jd ingat saat Kita permainkan pemabuk. Membuat aku dan kau harus duduk lama dinasihati org tua kita.

Ingat. . .
Saat bolos les yg membosankan. Sampai Kita pulang malam sambil menunjuk bintang d langit. Tertawa. . .sambil betanya-tanya mengapa "ayumi bahagia mati di tangan kekasihnya makoto sisio yg dikuasai dendam? Kenapa dia berkata, "AKU BAHAGIA. AKU CINTA PADAMU" d akhir hayatnya?"
megumi yg malang. Itu yg bisa aku dan kau simpulkan waktu itu.

Dan aku menunggu pulang dg kegemilangan yg kau genggam. Aku pun akan menunggu kiriman dr lani. . .

"saling mendoakan", itu yg kau ucapkan saat aku dan kau terpaksa menyudahi kebersamaan kita selama ini.

bertahan menanti senja

Sinar mentari pagi ini bgitu mnyejukkan. Seperti biasa. Aku berdiri di dekat jendela kamar yg menghadap barat.Aku ingin mnatap senja sore ini.Berencana seperti itu untuk hari ini.

Pagi...
Kali ini aku tak bergegas segera pergi pagi2 krn sabtu kemarin itu aku telah mengucapkan kalimat perpisahan.Sedih memang tp,itulah KEPUTUSAN.Akhirnya aku mampu mendengar lg lagu2 alam yg didendangkan burung2 pencuri nasi kering dg santai.

ku ingat kembali saat aku keluar dari rumah seorang ustad yg d ruang tamunya berjubel tafsir, tumpukan hadist, dan buku2 ttg syiah dan sunni, serta macam2 buku lain'y yg aku dapati dg mengarahkan bola mataku di tiap sisinya. Aku katakan pada ustad ttg sebuah kejujuran hati, Perpisahan.

Sudahlah. . .aku yakin perpisahan ini tdk membuat luka makin melebar. Aku yakin benar. Lalu aku keluar rumah ustad yg fasih benar bacaan qur'an nya. Aku bingung. Harus tersenyum atau menitikan air mata saat itu. Aku berjalan beberapa meter dan tak ku sangka akan bertemu dg pak haris, guru ngajiku. Pahlawan yg amat baik. Beliau menghentikan motornya. Aku tahu beliau sedang sibuk krn bertanya pd ku "tempat foto copi terdekat ada dimana?". Beliau tanya kabarku, studiku, dan kawan2ku. Aku jelaskan kawan2ku sedang mengembara menuntut ilmu keluar dr kota udang. Akhirnya beliau berkata, "hari minggu datang ya? Ada acara seperti biasa!", aku tersenyum dan balik bertanya ttg seseorang. "mas nuah apa kbr pak? Dia msh jg menghafal Al Quran?"

"ya . . ." jwb beliau "datang kalau mau ketemu dg mas nuah"

"insyaallah pak. Duluan ya pak. . . ",aku menyudahi obrolan itu dg ucapan salam krn harus bergegas ke kampus.

Nampaknya minggu ini aku disuguhi untuk bertemu dg pahlawan2 hidupku. Aku menyesal mengapa tak lekas pulang hari itu. Saat guru TK ku datang kerumah. Aku hny mendengar cerita dr ibu, "td bu iya datang. Dari siang. Baru saja pulang saat km datang. Lama nungguin kamu"

"ibu iya?benar bu iya dtng krmh bu?", aku sdkt tdk percaya

"iya. Td bantu ibu masak malah",ibu menjelaskan

aku tdk beruntung waktu itu. Padahal aku rindu sekali padanya. Aku ingin memeluknya dan mengucapkan bnyk trimakasih krn bnyk menguji kesabarannya saat usiaku 4th. Semuanya msh aku ingat bu. . .
Ingatanku sangat bagus untuk hal2 yg istimewa.

Aku sudah tdk berdiri d dekat jendela kamar. Ku du2kan badan. Aku tersenyum getir mengingat kelakuan kanak2ku yg takut menyanyikan lagu menyedihkan, di pondok kecil. Bahkan jk didenkangkan bersamaan oleh seluruh anak satu kelas pun aku tetap merasa ketakutan. Aku selalu berharap bukan lg itu yg harus aku dan teman2 polosku nyanyikan. Namun nampaknya ibu iya terlampau senang dg lgu itu. Aku ikut bernyanyi. Saat itu aku du2k disamping ira. Pertama2 aku berdendang. Lama2 aku menangis sejadi-jadinya. Semua jd diam. Nyanyian terhenti. Semua pandangan tertuju pdku. Aku tdk bs menjelaskan apa yg aku rasakan wkt itu pd siapapun. Mungkin krn kapasitas kosa kata ku sbg anak 4th yg blm bs dg mudah membahasakan isi hati. Sampai sekarang aku hanya bs menghafal 3 baris kalimat awal lagu itu. Dan aku tetap bertahan tdk mau menyakikan atau mendengarkan lg itu. Aku tdk th apa alasannya.

Lalu. . .
Aku pun mengenang kejadian td siang. Menyaksikan pemuda dimaki habis2 oleh monster berkrudung akademisi. Kasian melihat pemuda yg aku kenal pemberani itu. Aku luncurkan kata2 dukungan sdikit pdnya. Ia bilang, "trimakasih",sambil tersenyum. Bagiku dia adalah org yg sangat bisa diandalkan. Datang tepat waktu saat tdk ada yg datang menawarkan diri untuk menolong shg aku dpt mengerjakan tgs2ku yg lain. Aku meluncur ke medan juang yg lain krn aku yakin pemuda td dpt menggantikan tugasku yg langsung ia pahami hny dg sdikit penjelasan. Sampai d tempat yg dituju. Berjumpa dg kawan2 perjuangan d medan lain. Slesai. Aku kabur lg krn hrs memenuhi tanggung jawab berikutnya. Aku tdk boleh telat. Ku selesaikan jg tanggung jwb itu. Akhirnya dpt menarik nafas panjang tp aku harus menempuh perjalanan panjang lg. Kali ini ad yg menemani. Seorang pejuang jg. Ia yg akan menemaniku pulang dua kali dlm satu pekan. Sampai akhirnya aku mengenal ia adalah sosok yg lembut dan tdk pernah ku lihat ia marah. Indahnya. . . .
Tiba2 hp berbunyi saat aku dan dia berada dlm suatu kendaraan yg penuh sesak. Tlp dr ibu. "lg d mana? Hujan. Mati lampu disini. Cpt pulang", ibu bilang

"ya. Sbentar lg sampai", lalu tlp mati.

Sepanjang jalan gelap. Dr kuburan gunung jati jauh sampai ke utara lagi. Aku tertegun melihat ayah telah menantiku. Menjemputku pulang krn jalan masuk gang rumah memang jauh. Aku du2k di belakangnya. Hujan tetap saja lebat. Aku basah kuyup. Ayah tdk basahlah krn pakai jas hujan.

Ah, ayah. . .kau sering memberikan kejutan. Dlm perjalanan aku jd ingat saat kau antar dan menungguiku belajar ngaji pd pak haris. Walau dulu aku msh kecil tp aku th kau lelah. Aku ingin kau istirahat drmh sja. Aku buat diriku cepat bljr ngaji. Langsung jilid3 dlm waktu 1bulan yg membuat kau tersenyum pdku sambil kau kayuh sepeda penuh korosi.
Powered By Blogger