Agar terus bisa berjalan agaknya roda harus berputar. Berputar dengan pergantian yang di atas jadi di bawah atau sebaliknya. Mereka namakan itu rekomposisi. Tak masalahlah asal maslahat. Sudah saatnya kita keluar dari kungkungan imajiner menuju hal yg lebih realistik. Dan lagi-lagi perjalanan malam sendiri harus dilakukan.
Hidup di daerah pantai itu keras kawan. Kultur masyarakatnya jauh berbeda dengan mereka yang tinggal di pegunungan. Kasar dan tak jarang main tangan. Karena tinggal di daerah macam inilah bapak menyuruhku ikut latihan bela diri. Aku selalu ingat saat aku telah ada di level tertentu di salah satu perguruan bela diri. Ya, dengan semangat menggebu kuceritakan kemajuanku latihan tiap pekan. Setelah magrib itu. . . Dengan bangga ku tarik tangan Ayah dan Ibu untuk menyaksikan aku dapat mematahkan 4 batu bata dengan tangan kosong. Ah, aku jadi bintang di hadapan Ayah dan Ibu. Cukup memuaskan!!
Pukul 06.45 mentari sudah lenyap. Jujur saja aku suka suasana malam. Tepatnya perjalanan malam. Kenapa? Karena disaat macam itulah inspirasi bertaburan dan jiwa menjadi sangat peka tentang makna kehidupan. Tentu saja malam ini aku tak ingin melewatkannya begitu saja. Aku berhenti. Menyebrang jalan dan menyusuri jalan yang cukup meriah dengan anak jalanan. Tak cukup aneh karena aku sering melewatinya. Aku masuk di rumah makan yang menghidangkan es campur yang sedap. Tapi, jika berkunjung disini malam hari tidak cocok memesan es campur. Ku pesan makanan berat dan teh botol. Dan lagi-lagi aku bertemu dengan lelaki senja itu.
"hai neng kita ketemu lagi. Es campur juga?" Lelaki senja penggemar es campur itu bertanya.
"tidak"
entahlah sejak kapan kita akrab. Semua berlalu begitu saja. Lelaki senja yang kaya pengalaman hidup. Di sela-sela makan ia bercerita tentang bisnisnya, keluarganya, dan kehidupannya.
"kok sendiri terus kalau datang ke sini? Tidak punya pacar?" seperti suara seorang kakek menggoda cucunya.
"tidak. Hobiku memang pergi sendirian"
"lihat perempuan di meja seberang. Bisa tebak berapa umurnya? Tua mana sama kamu?" lelaki senja itu menantang.
Aku tidak suka mengatakan ini sebenarnya, "tua aku pak" aku jawab.
"tua dia ah. Ya . . .beda 5th dari kamu"
"tua aku pak! Paling beda 1 atau dua tahun dariku" aku menjawab yakin. Untuk masalah mengetahui karakter orang secara garis besar cukup mudah bagiku tanpa mengenal terlalu dalam. Apalagi hanya menebak umur.
Rupanya perempuan di seberang meja mengetahui kami sedang membicarakannya. Ia makan bersama ibunya. Dengan percaya diri aku bertanya, "itu anak ibu?" pada wanita yang lebih tua dari wanita yang kita bicarakan.
"ya"
"usianya berapa tahun bu?"
"20 th tp dia sudah menikah"
aku tersenyum penuh kemenangan, "benar kan pak? Bedanya 1 atau 2 tahunan dan aku lebih tua"
"wah kamu hebat menebak umur ya" lelaki senja itu akhirnya mengakui kekalahannya.
Biasanya aku yang selalu pulang duluan tapi kali ini lelaki senja itu pamit lebih awal. Nampaknya di usia setengah abad lebih itu ia sedang menikmati masa tuanya. Ia dari kalangan etnis cina.
"berapa mas? Sekalian. Semuanya," ia menunjuk semua pesananku. Aku bengong. "sudah bapak bayar" lanjutnya sambil tersenyum dan pergi dengan mobilnya.
"wah sering-sering datang berbarengan sajalah kalau bapak traktir terus" ucapku sambil tertawa.
Aku masih menyelesaikan makanku. Ah, suara pengamen jalanan membuat suasana malam makin indah. Selesai. Aku panggil pelayan "berapa semuanya mas?"
"kan tadi sudah dibayar mbak,"
"oh!" aku berpikir lelaki senja itu cuma bercanda tadi.
"jadi ceritanya saya lagi LUCK ya hari ini?" tanyaku pada semua pelayan yang ada.
"iya mbak . . ."
"beliau itu rumahnya dimana-mana mbak. Usahanya juga banyak" satu di antara pelayan itu menjelaskan.
"oh. . .ya sudah. Pulang lah mas" aku keluar meninggalkan rumah makan itu. Setengah sembilan? Harus cepat pulang rasanya. Akhirnya, jam 9 barulah sampai rumah.
Lelaki Senja Etnis Cina
Ku Titipkan Cintaku di Thailand
Angin malam menghembuskan kabar tak nyaman membuat jiwa terpasung dalam keterjagaan. Kapan kau pulang? Untuk apa kau sambangi Thailand yang penuh konflik itu Cinta? Gelisah semalaman setelah berita pertikaian antara baju merah dan pemerintahan Thailand berhamburan. Aku ingin berfikir kau baik-baik saja tapi tak bisa!! Cinta cepatlah pulang karna aku bersama Rindu tetap menunggumu. Jika hanya ada aku dan Rindu tak akan mungkin ada gerhana ke-77. Oleh karena itu katakanlah sesuatu yang membuatku tenang. Tapi. . .sampai sekarang kau tak ada kabar.
Kebahagiaan macam apa yang ingin kau cari? Tidakkah ketabahanmu selama ini tak membuat bahagia walau sedikit. Aku tahu harga air matamu atas kehidupan ini. Ya, Cinta! Saat kau harus berkenalan dengan rumah sakit jiwa. Saat semua sisi dunia menyimpit bagimu kala itu. Maafkan aku. . .karna pernah takut mengunjungi rumahmu dengan keadaanmu seperti itu. Rumah dengan jendela pecah, tv hancur, kaca lemari rusak berantakan, dan bau asap rokok yang menusuk hidung.
Akhirnya dengan seribu keberanian Aku membawa Rindu tuk dapat berjumpa denganmu. Berharap dapat menghapus air matamu dengan tanganku sendiri. Dan benar saja aku menemukanmu menangis di sudut kamar sendirian. Ku peluk tubuhmu yang kurus karna memikul derita hidup selama ini. Tangismu makin keras dalam pelukanku. Tangisanmu itu adalah cerita yang ingin kau sampaikan padaku. Tak apa! Tak perlu kau terangkan. Aku sangat mengerti maksud tangismu. Dalam hatiku ada kau yang selalu menemaniku sejak aku mulai paham arti kehidupan. Tentu saja Cinta hatiku sangat paham kisahmu lewat tangis yang kau senanungkan dengan pilu.
"hey, rambut keritingmu sudah panjang. Tidak mau dipotong?" Aku memecah kebekuan.
"tidak. Biarkan!"
"kau jelek sekali. Keriting! Mata bengkak pula"
"tak mengapa. Toh kamu tetap menyayangiku"
"ya, baiklah. . .kau benar!"
Aku bisa saja datang untuk memastikan kau baik-baik saja atau sekedar menghiburmu jika ku mau karna jarak antara kita hanya beberapa mil saja. Dulu. . .dulu. . .itu dulu Cinta! Kini kau jauh. Thailand itu memang hanya beberapa cm dari Cirebon. Tapi kenyataan mengatakan bahwa kedekatan itu dipermainkan skala dalam ratusan ribu. Menyakitkan.
Aku tak mengerti mengapa sekarang hatimu sekeras karang. Cinta yang berbeda dengan kata-kata kekerasan hatinya. Menatap matamu waktu itu, sesaat sebelum kau pergi rasanya aku menilai kau amat malang. Kau mengingkari kebahagiaanmu sendiri. Semoga saja aku tak muak menanti. Bisa saja kau datang suatu saat nanti tapi aku malah pergi. Dan tak ada lagi Gadis Rindu Cinta.
Apa sebenarnya yang aku tuliskan ini? Aku berharap aku tidak sedang frustasi. Kali ini aku hanya bisa menatap album kenangan kita dengan cucuran air mata. Aku tidak mau tahu. . . Aku hanya ingin kau pulang sesegara mungkin.
Thailand. . .
Thailand. . .
Ku titipkan Cintaku di Thailand. . .
Kebahagiaan macam apa yang ingin kau cari? Tidakkah ketabahanmu selama ini tak membuat bahagia walau sedikit. Aku tahu harga air matamu atas kehidupan ini. Ya, Cinta! Saat kau harus berkenalan dengan rumah sakit jiwa. Saat semua sisi dunia menyimpit bagimu kala itu. Maafkan aku. . .karna pernah takut mengunjungi rumahmu dengan keadaanmu seperti itu. Rumah dengan jendela pecah, tv hancur, kaca lemari rusak berantakan, dan bau asap rokok yang menusuk hidung.
Akhirnya dengan seribu keberanian Aku membawa Rindu tuk dapat berjumpa denganmu. Berharap dapat menghapus air matamu dengan tanganku sendiri. Dan benar saja aku menemukanmu menangis di sudut kamar sendirian. Ku peluk tubuhmu yang kurus karna memikul derita hidup selama ini. Tangismu makin keras dalam pelukanku. Tangisanmu itu adalah cerita yang ingin kau sampaikan padaku. Tak apa! Tak perlu kau terangkan. Aku sangat mengerti maksud tangismu. Dalam hatiku ada kau yang selalu menemaniku sejak aku mulai paham arti kehidupan. Tentu saja Cinta hatiku sangat paham kisahmu lewat tangis yang kau senanungkan dengan pilu.
"hey, rambut keritingmu sudah panjang. Tidak mau dipotong?" Aku memecah kebekuan.
"tidak. Biarkan!"
"kau jelek sekali. Keriting! Mata bengkak pula"
"tak mengapa. Toh kamu tetap menyayangiku"
"ya, baiklah. . .kau benar!"
Aku bisa saja datang untuk memastikan kau baik-baik saja atau sekedar menghiburmu jika ku mau karna jarak antara kita hanya beberapa mil saja. Dulu. . .dulu. . .itu dulu Cinta! Kini kau jauh. Thailand itu memang hanya beberapa cm dari Cirebon. Tapi kenyataan mengatakan bahwa kedekatan itu dipermainkan skala dalam ratusan ribu. Menyakitkan.
Aku tak mengerti mengapa sekarang hatimu sekeras karang. Cinta yang berbeda dengan kata-kata kekerasan hatinya. Menatap matamu waktu itu, sesaat sebelum kau pergi rasanya aku menilai kau amat malang. Kau mengingkari kebahagiaanmu sendiri. Semoga saja aku tak muak menanti. Bisa saja kau datang suatu saat nanti tapi aku malah pergi. Dan tak ada lagi Gadis Rindu Cinta.
Apa sebenarnya yang aku tuliskan ini? Aku berharap aku tidak sedang frustasi. Kali ini aku hanya bisa menatap album kenangan kita dengan cucuran air mata. Aku tidak mau tahu. . . Aku hanya ingin kau pulang sesegara mungkin.
Thailand. . .
Thailand. . .
Ku titipkan Cintaku di Thailand. . .
Merah darah di Laut Jawa
Aku merapat pada rindu yang kian lesu terkikis samudra waktu. Rindu yang jatuh di jurang pilu kini makin menusuk sembilu. Aku hanya rindu. Rindu pada cinta yang membawa bahagia di gubuk-gubuk sederhana.
Di muara cinta ini kita saling merindu. Lupakah? Lihatlah sejenak perahu-perahu yang bergoyang-goyang ditiup riak air. Tenang dan menenangkan bukan? Kau jatuhkan cinta di samudra biru yang mendayu. Itu mengalahkan keangkuhan ras dan kesukuan di dada kita.
Membekas cinta ini. Menancap kokok seperti mangrove menaungi lobster para nelayan. Dengan lobster ayah akan membagi-bagikan cinta di gubuk sederhana bersama istri dan anak-anaknya atas lobster jumbo 40cm tangkapannya. Sudah menguap rupanya rasa cinta itu. Hilang musnah seperti setetes air di atas tembaga yang dipanaskan. Rupanya kita tlah melupakan banyak pelajaran mengenai hati nurani. Kini keresahan merajai diri. Takut tiada tenang menjalari palung hati. Betapa pilu merajuk ingin segera terobati.
Perahu cinta ini. . .yang kita gunakan puluhan tahun telah bocor dimana-mana. Kita lupa diri. Mengikuti itikad ingin yang tiada berhingga ternyata berujung merana. Melupakan lobster 40cm, kakap merah, rajungan bahkan ikan tuna untuk keangkuhan fatamorgana. Oh tambang cinta di laut jawa yang masih melimpah kita gadaikan dengan empat mayat mengapung. Menghiasi biru air dengan anyir darah ayah.
Lalu? Berlari-lari kita dikejar anjing berseragam. Gagap menterjemahkan kepongahan ini. Ya, berlari karena melihat tangan kita yang nista atau mengingkari apa yang sudah jadi. Ah, jiwa kita tak bisa ambil putusan. Ambigu!! Ambigu apa yang telah kita buat.
Mungkin saatnya berhenti sejenak. Kita benahi yang sudah dengan mendaki gunung jati. Kita teropong birunya laut jawa dengan ketenangan dari tanah sunan ini. Warna merah itu adalah pelajaran hidup untuk kesabaran ayah. Kelaparan kemarin hari adalah hikmah yang dapat dipetik bagi anak-anak yang tak menghargai nikmat Illahi.
Ada apa ayah? Masih jua kau resah mengarungi laut? Ombak telah berhasil kau gulung. Cobalah berdamai dengan nurani sendiri. Lupakan egoisme itu ayah!!
Laut jawa yang indah dan muara ini adalah saksi rajutan cinta. Rindu kian menggebu pada biru yang tak henti merayu. Layar cinta ini akan berlayar sampai habis waktu.
Ayah, oh ayah. . . Sudahi perang emosi ini. Mari kita selami laut jawa penuh bahagia dan jangan ada lagi mayat laki-laki mati sia-sia. Agar tak ada lagi warna merah menodai teduhnya biru yang mendinginkan dasar hati.
Ayah, oh ayah. . .pulangmu dinanti. Agar genap bahagia di rumah petak pelipur hati.
#####
Layaknya batu karang yang butuh ribuan tahun oleh gerusan ombak untuk terkikis. Sama jua dengan kekokohan hati yang butuh ribuan tahun untuk melupakan ceceran darah yang sangat anyir dan menjijikkan serta air mata selama ini. Tak bisa lagi kau permainkan walau jutaan rayuan kau luncurkan. Selesai sampai disitu saja. Semua yang sudah tak kan pernah terulang. Mungkin benar aku yang egois tapi aku sangat bodoh jika harus percaya dengan janji yang irasional. Sebuah kekosongan hanya membawa harapan makin perih.
Apa yang telah mereka semua lakukan? Kenapa derita harus ditanggung jua olehmu Ayah? Bagaimana mungkin harga nyawa di laut jawa dilelang dengan sangat menjijikkan. Berapa? 1juta? 500ribu? 200ribu? Bahkan 5ribu? Ayah pulang saja tak perlu turut campur dengan urusan bodoh macam itu. Kenapa? Kenapa lelang nyawa makin turun harga? Tidakkah seperti tumpukan harta karun yang Ayah temukan di laut Cirebon yang makin tinggi harganya jika dilelang? Ah, sudahlah Ayah!! Aku ingin kau pulang saja. Penegak hukum lulusan SMA itu hanya bisa menyalahkan rakyat jelata yang tak mengerti aksara. Mereka hanya mengerti cara menilang di jalan raya. Tak cukup mengertilah tentang menjaga karang dan mutiara di laut jawa ini. Lempari saja! Iya lempari dengan ubur-ubur agar mereka tahu tingkah mereka itu sangat menggelikan.
Ayah. . .oh Ayah. . .kenapa tak jua pulang hingga selarut ini? Jam dinding makin terasa detaknya. Kapan akan pulang? Sidang macam apa yang tengah dijalankan? Ibu termangu menunggu dirumah. Mencoba tegar tapi tak bisa. Dan menatap wajah buah hati kita membuat derita makin lara.
Semalam ibu tak tidur. Menanti. Berharap pintu diketuk olehmu ayah dan akan ku sambut pulangmu dengan bahagia. Tapi tak ada ketukan pintu sampai mentari menyeruak dari singgasananya.
"ayah keman se bu? kapan ayah pulang bu?" Aisyah kecil bertanya.
Oh, apa yang harus ibu jawab Ayah? Gadis kecil kita bertanya kemana ayahnya dan kapan ayahnya akan pulang?
"sabar ya Ais. Ayah sedang mengarungi laut jawa bahkan samudra. Ayah pasti pulang."
"kapan bu?"
"emm. . .kapan ya? Secepatnya. Untuk bertemu dengan Ais."
"masa? Ketemu Ais?"
"tentu! Karna Ayah pasti rindu dengan Ais"
agak siang Ayah pulang dengan nafas tersengal. Tampak lelah. Membela yang haq itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Itu yang Ayah bilang. Hidup ini . . . Akan bahagia walau tanpa sedan apa lagi istana menawan. Tapi, harta yang terindah adalah Ayah yang selalu meniti jalan kebenaran walau dengan tersengal. Ibu yang selalu sabar dalam dukungan walau badai menyambar. Kita berkumpul lagi senja ini. Ya, di rumah bocor yang tetap indah karena ada ketentraman dan jutaan harapan disana.
"Ayah, aku ingin jadi Profesor dan hafal Al-qur'an," Ais bercerita penuh semangat pada Ayahnya.
Ayah dan Ibu tertawa mendengar celotehan gadis kecilnya. Oh bahagianya... Inilah rona senja itu. Indah dan mententramkan. Dan kebahagiaan ini tak bisa dicuri oleh penguasa sekalipun.
Di muara cinta ini kita saling merindu. Lupakah? Lihatlah sejenak perahu-perahu yang bergoyang-goyang ditiup riak air. Tenang dan menenangkan bukan? Kau jatuhkan cinta di samudra biru yang mendayu. Itu mengalahkan keangkuhan ras dan kesukuan di dada kita.
Membekas cinta ini. Menancap kokok seperti mangrove menaungi lobster para nelayan. Dengan lobster ayah akan membagi-bagikan cinta di gubuk sederhana bersama istri dan anak-anaknya atas lobster jumbo 40cm tangkapannya. Sudah menguap rupanya rasa cinta itu. Hilang musnah seperti setetes air di atas tembaga yang dipanaskan. Rupanya kita tlah melupakan banyak pelajaran mengenai hati nurani. Kini keresahan merajai diri. Takut tiada tenang menjalari palung hati. Betapa pilu merajuk ingin segera terobati.
Perahu cinta ini. . .yang kita gunakan puluhan tahun telah bocor dimana-mana. Kita lupa diri. Mengikuti itikad ingin yang tiada berhingga ternyata berujung merana. Melupakan lobster 40cm, kakap merah, rajungan bahkan ikan tuna untuk keangkuhan fatamorgana. Oh tambang cinta di laut jawa yang masih melimpah kita gadaikan dengan empat mayat mengapung. Menghiasi biru air dengan anyir darah ayah.
Lalu? Berlari-lari kita dikejar anjing berseragam. Gagap menterjemahkan kepongahan ini. Ya, berlari karena melihat tangan kita yang nista atau mengingkari apa yang sudah jadi. Ah, jiwa kita tak bisa ambil putusan. Ambigu!! Ambigu apa yang telah kita buat.
Mungkin saatnya berhenti sejenak. Kita benahi yang sudah dengan mendaki gunung jati. Kita teropong birunya laut jawa dengan ketenangan dari tanah sunan ini. Warna merah itu adalah pelajaran hidup untuk kesabaran ayah. Kelaparan kemarin hari adalah hikmah yang dapat dipetik bagi anak-anak yang tak menghargai nikmat Illahi.
Ada apa ayah? Masih jua kau resah mengarungi laut? Ombak telah berhasil kau gulung. Cobalah berdamai dengan nurani sendiri. Lupakan egoisme itu ayah!!
Laut jawa yang indah dan muara ini adalah saksi rajutan cinta. Rindu kian menggebu pada biru yang tak henti merayu. Layar cinta ini akan berlayar sampai habis waktu.
Ayah, oh ayah. . . Sudahi perang emosi ini. Mari kita selami laut jawa penuh bahagia dan jangan ada lagi mayat laki-laki mati sia-sia. Agar tak ada lagi warna merah menodai teduhnya biru yang mendinginkan dasar hati.
Ayah, oh ayah. . .pulangmu dinanti. Agar genap bahagia di rumah petak pelipur hati.
#####
Layaknya batu karang yang butuh ribuan tahun oleh gerusan ombak untuk terkikis. Sama jua dengan kekokohan hati yang butuh ribuan tahun untuk melupakan ceceran darah yang sangat anyir dan menjijikkan serta air mata selama ini. Tak bisa lagi kau permainkan walau jutaan rayuan kau luncurkan. Selesai sampai disitu saja. Semua yang sudah tak kan pernah terulang. Mungkin benar aku yang egois tapi aku sangat bodoh jika harus percaya dengan janji yang irasional. Sebuah kekosongan hanya membawa harapan makin perih.
Apa yang telah mereka semua lakukan? Kenapa derita harus ditanggung jua olehmu Ayah? Bagaimana mungkin harga nyawa di laut jawa dilelang dengan sangat menjijikkan. Berapa? 1juta? 500ribu? 200ribu? Bahkan 5ribu? Ayah pulang saja tak perlu turut campur dengan urusan bodoh macam itu. Kenapa? Kenapa lelang nyawa makin turun harga? Tidakkah seperti tumpukan harta karun yang Ayah temukan di laut Cirebon yang makin tinggi harganya jika dilelang? Ah, sudahlah Ayah!! Aku ingin kau pulang saja. Penegak hukum lulusan SMA itu hanya bisa menyalahkan rakyat jelata yang tak mengerti aksara. Mereka hanya mengerti cara menilang di jalan raya. Tak cukup mengertilah tentang menjaga karang dan mutiara di laut jawa ini. Lempari saja! Iya lempari dengan ubur-ubur agar mereka tahu tingkah mereka itu sangat menggelikan.
Ayah. . .oh Ayah. . .kenapa tak jua pulang hingga selarut ini? Jam dinding makin terasa detaknya. Kapan akan pulang? Sidang macam apa yang tengah dijalankan? Ibu termangu menunggu dirumah. Mencoba tegar tapi tak bisa. Dan menatap wajah buah hati kita membuat derita makin lara.
Semalam ibu tak tidur. Menanti. Berharap pintu diketuk olehmu ayah dan akan ku sambut pulangmu dengan bahagia. Tapi tak ada ketukan pintu sampai mentari menyeruak dari singgasananya.
"ayah keman se bu? kapan ayah pulang bu?" Aisyah kecil bertanya.
Oh, apa yang harus ibu jawab Ayah? Gadis kecil kita bertanya kemana ayahnya dan kapan ayahnya akan pulang?
"sabar ya Ais. Ayah sedang mengarungi laut jawa bahkan samudra. Ayah pasti pulang."
"kapan bu?"
"emm. . .kapan ya? Secepatnya. Untuk bertemu dengan Ais."
"masa? Ketemu Ais?"
"tentu! Karna Ayah pasti rindu dengan Ais"
agak siang Ayah pulang dengan nafas tersengal. Tampak lelah. Membela yang haq itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Itu yang Ayah bilang. Hidup ini . . . Akan bahagia walau tanpa sedan apa lagi istana menawan. Tapi, harta yang terindah adalah Ayah yang selalu meniti jalan kebenaran walau dengan tersengal. Ibu yang selalu sabar dalam dukungan walau badai menyambar. Kita berkumpul lagi senja ini. Ya, di rumah bocor yang tetap indah karena ada ketentraman dan jutaan harapan disana.
"Ayah, aku ingin jadi Profesor dan hafal Al-qur'an," Ais bercerita penuh semangat pada Ayahnya.
Ayah dan Ibu tertawa mendengar celotehan gadis kecilnya. Oh bahagianya... Inilah rona senja itu. Indah dan mententramkan. Dan kebahagiaan ini tak bisa dicuri oleh penguasa sekalipun.
Lelaki Diagonal
Malam ini dunia menarikku pada masa yg tlah lalu. Air mata langit m'buat basah bumi hingga lembap ke relung2 hati. Ya,dlm hujan ada lagu yg hny didengar oleh mrk yg rindu. Ia mengingatkan masa lalu dan membangkitkan inspirasi. Aku pun bersenyawa dengannya meneteskan butiran putih penuh kejujuran. Ini bukan hny menangis semalam tp, aku disekap rindu pd ia yg tlah pergi terlampau jauh dr pandangan. Mengapa msh jg ia berani mengusikku sepanjang mlm hngg pagi.
Dunia adalah laboratorium para ilmuan kehidupan. Di dalamnya terjadi bnyk reaksi kehidupan yg hny bs diamati dg teleskop kepekaan oleh mrk yg menginginkan penemuan kebahagiaan.
Kelas 4SD. Semuanya sama. Tdk ada yg baru kecuali guru kelas km yg nasrani. Ini m'buat km canggung pd awal2 krn km hrs terbiasa mengucapkan slm yg tdk spt biasanya. SD kampung ini yg menjadi tempat penelitian pertamaku ttg kehidupan dan impian. Aku rindu masa itu. Aku rindu pada seseorang. Ya, susah benar aku menemui bocah lelaki itu skrg tp bayangan 'ia berjalan' kadang melintas bgt saja. Bahkan sangat mempengaruhi emosiku. Kejadian itu telah mengendap berpuluh thn tp msh jua tak terhapus dr ingatan.
Senyum dan tawanya msh terekam sempurna. Bahkan suaranya memanggil namaku msh aku ingat. Dia yg kurus dan tdk bgt tinggi dg balutan seragam merah putih yg dekil sll dtng kesekolah. Ya, sll dg ikat pinggang d celana krn dia kurus. Saat itu dia du2k di pojok plg belakang. Sementara aku du2k d pojok plg depan. Jk ditarik garis dalam ruang kelas itu mk posisi aku dan dia akam membentuk diagonal. Dia anak tukan becak dr kampung sebelah yg sring ku dapati menggendong adik2y yg kecil. Terlalu dewasa dan bijaksana untuk anak umur 10 tahunan.
Itulah kelas baruku yg dijalani dg penuh semangat melakukan berbagai hal. D kelas 4 inilah aku menemukan penemuan fenomenal. Setiap hari'y terus berlalu smp aku merasa ad yg kuran. Aku lihat kursinya yg sll kosong. Dia tdk pnh dtng ke sekolah lg. Padahal aku rindu dg sapaan'y padaku, "Gadis. . " dg lembut sambil tersenyum. Sampai km dapati kabar yg membuat sakit. Abi, anak lelaki kurus yg ramah itu kecelakaan. Kakinya diampultasi satu. Robb memilih dia. . .si kurus yg ternyata Allah anggap mampu meraih ketabahan.
Kami menengok'y beramai2 bersama para guru. Rumah'y yg kecil dijejali olh km yg tll bnyk. Tentu sj km smua tdk bs msk. Dia hny terkapar d ranjang besi. Melihat abi kecil spt itu air mataku mau tumpah. Aku segera lari keluar dr rmh'y. Aku tdk mau ad air mata untuk Abi hr itu. Aku ingin senyum sj yg ada. Setelah aku bs menguasai diri aku, dpt b'gabung lg dg tmn2 lain'y. Dlm hati aku bertanya, "apa km bs sekolah lg abi?"
2bln kursi itu kosong smp akhir'y berita bahagia itu datang d tengah2 kami. Bsk Abi akan masuk sekolah lg. Hr itu suasana kls jd riang. Mungkin krn km sangat meridukan Abi.
Esoknya dia dtg dg kaki yg tdk sempurna. Berjalan dg 2tongkat yg diapit di ketiaknya. "abi...itukah km?" ungkapku dlm ht. Ya,dia tlah kembali. Kls ini tlah lengkap kembali. Km smua menyayanginya. Tdk pnh memperlakukan'y berbeda. Ah, Abi...senyummu tetap sm dan kau jd lbh mempesona.
Abi...lelaki kecil itu yg pertama-tama mengajariku kehidupan saat aku berusia 9th. Aku terpikat olh ketabahan'y. Aku kagum akan kelembutan'y. Dan aku terpesona pd pengabdian dan pengorbanan'y pd org tua. Dialah motivator pertama yg kukenal. Yg memotivasi tanpa kata dr mulut'y. Knp Abi?knp aku tdk bs lupa pd mu. Knp bayang2mu kadang muncul di sela2 aktifitasku tanpa ku undang pun! D angkot, d perpustakaan, d ruang kuliah bahkan d mlm ini. Air mt bnyk keluar d sunyi mlm mengingat apa yg tlah kau ajarkan pdku. Saat itulah bola mataku menangkap ada yg berbeda dr mu. Kau membuat aku jd malu jk bermalas2n meraih mimpi krn kau mengajariku menapaki mimpi dg sempurna d kehidupan ini.
Pg itu...saat embun bergelayutan d ujung2 daun. Saat kabut merapi membuat buram lapangan bola tempat kt berlarian. Suara burung seolah memberi pesan yg penghabisan. Kabar itu dtng mengusik bljr km d pagi hr.
"abi telah pergi. Kecelakaan lg. Meninggal d tempat kemarin sore," s'org lelaki menyampaikan berita yg rasa'y spt hujan zenital.
"bgmn kejadian'y?memang dia mau pg kemana?" guru km bertanya.
"dia membantu ibunya d pasar. Saat mau menyebrang jln dia tertabrak mobil," lelaki itu pamit meninggalkan kelas stlh selesai bicara.
Mendengar itu rasanya ada yg sakit. Abi, kau pergi? Pergi meninggalkan aku? Pergi meninggalkan kami? Tapi, disampingku msh ada Cinta dan Rindu. Itulah yg membuatku tetap teguh berdiri. Satu saat nanti aku pasti bertemu dg seseorang yg nanti kupanggil dg sebutan Umair. Bukan untuk menggantikanmu tp untuk meneguhkan mimpi. Ya, merangkai perjuangan untuk menuju bahagia. Tenanglah Abi krn smp detik ini msh blm ada yg mampu mencabutmu dr hatiku. Pada saatnya akan ku ganti dirimu dg mercusuar yang menggenapkan hidup.
Dunia adalah laboratorium para ilmuan kehidupan. Di dalamnya terjadi bnyk reaksi kehidupan yg hny bs diamati dg teleskop kepekaan oleh mrk yg menginginkan penemuan kebahagiaan.
Kelas 4SD. Semuanya sama. Tdk ada yg baru kecuali guru kelas km yg nasrani. Ini m'buat km canggung pd awal2 krn km hrs terbiasa mengucapkan slm yg tdk spt biasanya. SD kampung ini yg menjadi tempat penelitian pertamaku ttg kehidupan dan impian. Aku rindu masa itu. Aku rindu pada seseorang. Ya, susah benar aku menemui bocah lelaki itu skrg tp bayangan 'ia berjalan' kadang melintas bgt saja. Bahkan sangat mempengaruhi emosiku. Kejadian itu telah mengendap berpuluh thn tp msh jua tak terhapus dr ingatan.
Senyum dan tawanya msh terekam sempurna. Bahkan suaranya memanggil namaku msh aku ingat. Dia yg kurus dan tdk bgt tinggi dg balutan seragam merah putih yg dekil sll dtng kesekolah. Ya, sll dg ikat pinggang d celana krn dia kurus. Saat itu dia du2k di pojok plg belakang. Sementara aku du2k d pojok plg depan. Jk ditarik garis dalam ruang kelas itu mk posisi aku dan dia akam membentuk diagonal. Dia anak tukan becak dr kampung sebelah yg sring ku dapati menggendong adik2y yg kecil. Terlalu dewasa dan bijaksana untuk anak umur 10 tahunan.
Itulah kelas baruku yg dijalani dg penuh semangat melakukan berbagai hal. D kelas 4 inilah aku menemukan penemuan fenomenal. Setiap hari'y terus berlalu smp aku merasa ad yg kuran. Aku lihat kursinya yg sll kosong. Dia tdk pnh dtng ke sekolah lg. Padahal aku rindu dg sapaan'y padaku, "Gadis. . " dg lembut sambil tersenyum. Sampai km dapati kabar yg membuat sakit. Abi, anak lelaki kurus yg ramah itu kecelakaan. Kakinya diampultasi satu. Robb memilih dia. . .si kurus yg ternyata Allah anggap mampu meraih ketabahan.
Kami menengok'y beramai2 bersama para guru. Rumah'y yg kecil dijejali olh km yg tll bnyk. Tentu sj km smua tdk bs msk. Dia hny terkapar d ranjang besi. Melihat abi kecil spt itu air mataku mau tumpah. Aku segera lari keluar dr rmh'y. Aku tdk mau ad air mata untuk Abi hr itu. Aku ingin senyum sj yg ada. Setelah aku bs menguasai diri aku, dpt b'gabung lg dg tmn2 lain'y. Dlm hati aku bertanya, "apa km bs sekolah lg abi?"
2bln kursi itu kosong smp akhir'y berita bahagia itu datang d tengah2 kami. Bsk Abi akan masuk sekolah lg. Hr itu suasana kls jd riang. Mungkin krn km sangat meridukan Abi.
Esoknya dia dtg dg kaki yg tdk sempurna. Berjalan dg 2tongkat yg diapit di ketiaknya. "abi...itukah km?" ungkapku dlm ht. Ya,dia tlah kembali. Kls ini tlah lengkap kembali. Km smua menyayanginya. Tdk pnh memperlakukan'y berbeda. Ah, Abi...senyummu tetap sm dan kau jd lbh mempesona.
Abi...lelaki kecil itu yg pertama-tama mengajariku kehidupan saat aku berusia 9th. Aku terpikat olh ketabahan'y. Aku kagum akan kelembutan'y. Dan aku terpesona pd pengabdian dan pengorbanan'y pd org tua. Dialah motivator pertama yg kukenal. Yg memotivasi tanpa kata dr mulut'y. Knp Abi?knp aku tdk bs lupa pd mu. Knp bayang2mu kadang muncul di sela2 aktifitasku tanpa ku undang pun! D angkot, d perpustakaan, d ruang kuliah bahkan d mlm ini. Air mt bnyk keluar d sunyi mlm mengingat apa yg tlah kau ajarkan pdku. Saat itulah bola mataku menangkap ada yg berbeda dr mu. Kau membuat aku jd malu jk bermalas2n meraih mimpi krn kau mengajariku menapaki mimpi dg sempurna d kehidupan ini.
Pg itu...saat embun bergelayutan d ujung2 daun. Saat kabut merapi membuat buram lapangan bola tempat kt berlarian. Suara burung seolah memberi pesan yg penghabisan. Kabar itu dtng mengusik bljr km d pagi hr.
"abi telah pergi. Kecelakaan lg. Meninggal d tempat kemarin sore," s'org lelaki menyampaikan berita yg rasa'y spt hujan zenital.
"bgmn kejadian'y?memang dia mau pg kemana?" guru km bertanya.
"dia membantu ibunya d pasar. Saat mau menyebrang jln dia tertabrak mobil," lelaki itu pamit meninggalkan kelas stlh selesai bicara.
Mendengar itu rasanya ada yg sakit. Abi, kau pergi? Pergi meninggalkan aku? Pergi meninggalkan kami? Tapi, disampingku msh ada Cinta dan Rindu. Itulah yg membuatku tetap teguh berdiri. Satu saat nanti aku pasti bertemu dg seseorang yg nanti kupanggil dg sebutan Umair. Bukan untuk menggantikanmu tp untuk meneguhkan mimpi. Ya, merangkai perjuangan untuk menuju bahagia. Tenanglah Abi krn smp detik ini msh blm ada yg mampu mencabutmu dr hatiku. Pada saatnya akan ku ganti dirimu dg mercusuar yang menggenapkan hidup.
Mengembangkan Sayap Rapuh
Hr ini aku bertekad tdk pergi kemana-mn. Mau liburan saja dirumah. Hanya mengagendakan akan keluar jam 4sore untuk bertemu anak brilian.
"gadis, tumben ada dirumah. Tidak pergi kemana-mana hari ini?" bapak bertanya.
"tidak pak," jawabku singkat.
Kangen rasanya ada dirumah seharian. Membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga full dan baca buku banyak2. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam12 siang. Matahari panas menyengat siang ini. Sholat terus tidur. Enaknya. . . tidur siang.
Waktu tidur paling tidak enak diganggu. Ya, tidak peduli sms datang bertubi-tubi menanyakan ini itu. Malas membuka mata untuk membaca apa lagi membalasnya. Tapi hp berdering terus-terusan. Ku coba membuka mata untuk membaca sms-sms itu. Aku sedikit berkerut dengan sms berbahasa inggris dari nomer asing. Pesannya, "Gadis, is your voucher enough to call me? I want to talk to you."
"Ah, sms iseng," pikirku dan melanjutkan tidur.
Pukul 15.00 sountrack tom and jarry sebagai tanda panggilan masuk menderit tak henti-hentinya. Aku masih malas mengangkat tapi tak kunjung berhenti. Siapa? Aku lihat nomernya. Asing. Sudahlah aku angkat saja. Dari seberang sana ada suara laki-laki bicara dengan bahasa inggris. Aku kenal suara itu. Ya, suara Mr. Nasution.
Mr. Nasution menyuruhku datang ke salah satu hotel mewah di kota Cirebon pukul 16.00. Dia bilang aku harus on time. Rusak mendadak agenda hari ini. Tidak sempat mandi. Langsung cuci muka, sholat dan langsung pergi.
15.50 aku sampai di hotel yang dimaksud dengan naik public transportasion, angkot. Benar-benar tak kusangka Mr. Nasution menungguku di pinggir jalan raya tidak di lobi hotel. Sangat membuatku terpesona dengan semua perhatiannya padaku. Dia tersenyum saat aku turun dari angkot.
Kami berjalan menuju lobi hotel. Aku benar-benar bingung. Apa yang akan ia lakukan padaku? Dia tidak memberi tahuku sama sekali. Bodohnya aku patuh saja. Pembicaraan dimulai antara aku dan Mr. Nasution.
"ok, gadis. . . there someone want to meet with you. Yo must survive. I belive you can!" Mr. Nasution membuka pembicaraan.
Aku bingung dengan maksudnya. Aku tidak diberi kesempatan bicara sama sekali. Apa sebenarnya?
"kamu. . .kamu. . .harus bergaul dengan orang-orang yang high class," katanya "kamu tidak perlu capek untuk mendapatkan uang jutaan dengan bakat yang kamu punya"
akhirnya aku bicara, "what's your mean Mr?" aku bingung. " I am confuse"
Sama sekali dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak sabar dan sedikit kesal.
"sorry Gadis, i want to call Mrs. Edward. Wait a few minutes," Mr. Edward berkata sambil lalu dari kursinya.
Sial benar aku hari ini. Merasa dipermainkan. Oh, tentu saja aku harus segera menelfon anak brilian bahwa aku tidak bisa datang menemuinya gara-gara hal ini.
Mr. Nasution kembali duduk setelah menemui resepsionis hotel dan memberiku permen. Atmosfer hotel sama sekali tidak sejuk walau AC cukup bisa mendinginkan ruangan. Akhirnya. . . Mr. Nasution menjelaskan semuanya. Apa yang harus aku lakukan dan apa yang aku inginkan tinggal sebut saja. Aku kaget. Kenapa dia memanggil dan menyuruh aku untuk melakukan pekerjaan ini? Beberapa menit kemudian seorang wanita datang dengan seorang anak bule. Menghampiri kami, aku dan Mr. Nasution. Mr. Nasution mengenalkan mereka padaku. Oh, ternyata itulah Mrs. Edward dan Nico. Setelahnya kita berempat pergi ke cafe hotel. Pelayan cafe hotel langsung menawari hidangan. Kita semua memesan. Sungguh aku tidak bisa menyebut mau makan waktu itu karena tidak ada daftar menu yang diberikan pada kami. Terpaksa aku samakan saja pesanan dengan Mr. Nasution walaupun tidak tahu makanan jenis apa yang akan datang. Cukup percaya dengan selera Mr. Nasution saja.
Akhirnya aku sepakat dengan perjanjian sore ini. 8 jam dalam sebulan dengan salary 500 ribu. Mr. Nasution tertawa saja melihat ekspresi wajahku. "kamu sudah punya penawaran tinggi sekarang. Sukses ya. . .
Saya mau pergi duluan. Ada janji dengan orang Irlandia," Mr. Nasution berkata dan pergi meninggalkanku sendiri dengan dua orang asing ini.
Dengan modal bahasa inggris pas-pasan aku, berdialog dengan mereka. Huh, makanan enak terasa tak sedap mendadak. Ya, inilah pengalaman baru minggu ini. Teach math with english. Jujur saja aku lunglai. Aku nekad? bisa dibilang begitu.
Aku mengajar matematika anak keturunan China Indonesia dan Firlandia, Nico. Nico sama sekali tidak bisa bahasa indonesia. Dia tidak pernah sekolah di Indonesia. Hanya punya pengalaman sekolah di Firlandia dan Singapura. Pantas tak bisa bahasa Indonesia. Bahasa inggris jadi bahasa ibunya. Setelah semua dirasa cukup aku segera pulang melalui kolam renang dan bar yang terpampang minuman beralkhol dengan harga mahal.
Aku pulang sambil bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa aku bisa? Aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Cukup setengah jam untuk sampai rmh. Aku langsung cerita pd ibu pengalaman sore ini.
"bs tdk ya bu?"
"sejak kpn km takut dg ombak gadis?"jwb ibu.
1kata dr ibu yg sangat mempesona...
"gadis, tumben ada dirumah. Tidak pergi kemana-mana hari ini?" bapak bertanya.
"tidak pak," jawabku singkat.
Kangen rasanya ada dirumah seharian. Membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga full dan baca buku banyak2. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam12 siang. Matahari panas menyengat siang ini. Sholat terus tidur. Enaknya. . . tidur siang.
Waktu tidur paling tidak enak diganggu. Ya, tidak peduli sms datang bertubi-tubi menanyakan ini itu. Malas membuka mata untuk membaca apa lagi membalasnya. Tapi hp berdering terus-terusan. Ku coba membuka mata untuk membaca sms-sms itu. Aku sedikit berkerut dengan sms berbahasa inggris dari nomer asing. Pesannya, "Gadis, is your voucher enough to call me? I want to talk to you."
"Ah, sms iseng," pikirku dan melanjutkan tidur.
Pukul 15.00 sountrack tom and jarry sebagai tanda panggilan masuk menderit tak henti-hentinya. Aku masih malas mengangkat tapi tak kunjung berhenti. Siapa? Aku lihat nomernya. Asing. Sudahlah aku angkat saja. Dari seberang sana ada suara laki-laki bicara dengan bahasa inggris. Aku kenal suara itu. Ya, suara Mr. Nasution.
Mr. Nasution menyuruhku datang ke salah satu hotel mewah di kota Cirebon pukul 16.00. Dia bilang aku harus on time. Rusak mendadak agenda hari ini. Tidak sempat mandi. Langsung cuci muka, sholat dan langsung pergi.
15.50 aku sampai di hotel yang dimaksud dengan naik public transportasion, angkot. Benar-benar tak kusangka Mr. Nasution menungguku di pinggir jalan raya tidak di lobi hotel. Sangat membuatku terpesona dengan semua perhatiannya padaku. Dia tersenyum saat aku turun dari angkot.
Kami berjalan menuju lobi hotel. Aku benar-benar bingung. Apa yang akan ia lakukan padaku? Dia tidak memberi tahuku sama sekali. Bodohnya aku patuh saja. Pembicaraan dimulai antara aku dan Mr. Nasution.
"ok, gadis. . . there someone want to meet with you. Yo must survive. I belive you can!" Mr. Nasution membuka pembicaraan.
Aku bingung dengan maksudnya. Aku tidak diberi kesempatan bicara sama sekali. Apa sebenarnya?
"kamu. . .kamu. . .harus bergaul dengan orang-orang yang high class," katanya "kamu tidak perlu capek untuk mendapatkan uang jutaan dengan bakat yang kamu punya"
akhirnya aku bicara, "what's your mean Mr?" aku bingung. " I am confuse"
Sama sekali dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak sabar dan sedikit kesal.
"sorry Gadis, i want to call Mrs. Edward. Wait a few minutes," Mr. Edward berkata sambil lalu dari kursinya.
Sial benar aku hari ini. Merasa dipermainkan. Oh, tentu saja aku harus segera menelfon anak brilian bahwa aku tidak bisa datang menemuinya gara-gara hal ini.
Mr. Nasution kembali duduk setelah menemui resepsionis hotel dan memberiku permen. Atmosfer hotel sama sekali tidak sejuk walau AC cukup bisa mendinginkan ruangan. Akhirnya. . . Mr. Nasution menjelaskan semuanya. Apa yang harus aku lakukan dan apa yang aku inginkan tinggal sebut saja. Aku kaget. Kenapa dia memanggil dan menyuruh aku untuk melakukan pekerjaan ini? Beberapa menit kemudian seorang wanita datang dengan seorang anak bule. Menghampiri kami, aku dan Mr. Nasution. Mr. Nasution mengenalkan mereka padaku. Oh, ternyata itulah Mrs. Edward dan Nico. Setelahnya kita berempat pergi ke cafe hotel. Pelayan cafe hotel langsung menawari hidangan. Kita semua memesan. Sungguh aku tidak bisa menyebut mau makan waktu itu karena tidak ada daftar menu yang diberikan pada kami. Terpaksa aku samakan saja pesanan dengan Mr. Nasution walaupun tidak tahu makanan jenis apa yang akan datang. Cukup percaya dengan selera Mr. Nasution saja.
Akhirnya aku sepakat dengan perjanjian sore ini. 8 jam dalam sebulan dengan salary 500 ribu. Mr. Nasution tertawa saja melihat ekspresi wajahku. "kamu sudah punya penawaran tinggi sekarang. Sukses ya. . .
Saya mau pergi duluan. Ada janji dengan orang Irlandia," Mr. Nasution berkata dan pergi meninggalkanku sendiri dengan dua orang asing ini.
Dengan modal bahasa inggris pas-pasan aku, berdialog dengan mereka. Huh, makanan enak terasa tak sedap mendadak. Ya, inilah pengalaman baru minggu ini. Teach math with english. Jujur saja aku lunglai. Aku nekad? bisa dibilang begitu.
Aku mengajar matematika anak keturunan China Indonesia dan Firlandia, Nico. Nico sama sekali tidak bisa bahasa indonesia. Dia tidak pernah sekolah di Indonesia. Hanya punya pengalaman sekolah di Firlandia dan Singapura. Pantas tak bisa bahasa Indonesia. Bahasa inggris jadi bahasa ibunya. Setelah semua dirasa cukup aku segera pulang melalui kolam renang dan bar yang terpampang minuman beralkhol dengan harga mahal.
Aku pulang sambil bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa aku bisa? Aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Cukup setengah jam untuk sampai rmh. Aku langsung cerita pd ibu pengalaman sore ini.
"bs tdk ya bu?"
"sejak kpn km takut dg ombak gadis?"jwb ibu.
1kata dr ibu yg sangat mempesona...
Putusan Hati
Mengikuti langkah-langkah atas instruksi hati dan bersungut-sungut pada sepi malam yang membuka memori detik lalu. Dengan itu jalan yang gelap dan panjang tetap terlewati. Malam hanya membawa birunya hati pada butiran air mata yang tak mampu tertahan. Mungkinkah lelah? Atau ingin mengakhiri semua penderitaan yang mencekam dan membunuhnya dengan tangan sendiri. Semakin terurai air mata semakin bahagialah. Biar kutanggung sendiri. Ini tak patut dibagi-bagi. Tapi tetap juga menderita.
Mengosongkan hati bak mimpi. Kenyataannya lebih merasa dipecundangi.
Tak perlu mengaitkan dengan dalamnya samudra hindia. Itu hanya omong kosong. Baiknya kita sudahi pesta dengan merenungi diri. Tidak perlu bermain-main dengan janji yang lebihi batas toleransi. Aku muak!!
Hari ini berpaling sudah aku pada obralan kata. Tidak lagi bisa kembali sepeti yg sudah. Tlah ku kirimkan kalung maaf tapi tak bisa membuat ia seperti hari lalu. Sakit ini sudah terlampau dalam. Menangis . . . Teriris. . . Inilah keputusan itu. Ah, tegar penuh kepalsuan. Menguatkan diri mengatakan keputusan. Jawaban bak kata yang mirip pemanis buatan. Jangan rusak tegasnya putusan dengan air mata yg berlinang dikelopak mata. Tolong jangan tunjukkan itu karena aku takut akan menumbuhkan belas kasihan yang mengubah putusan.
Oh, pesta batin dengan langit yang miskin warna. Pesta yang menguji kejujuran jiwa tentang makna yang tak bisa terbingkai kata atau istilah.
Air mata tak jua mengalah. Terus mengejar tanpa henti. Seolah aku terdakwa yang tak layak diberi ampun.
Sakit ini. . .
Sakit penuh derita. . .
Rasanya seperti mau tumbang namun, aku masih ingin bertahan. Ya, sekedar merasakan berdansa atau nonton teater bersama senyum dari kesabaran. Atau mungkin tertawa riang di Green Gables sambil menghirup wangi mawar liar penuh kemenangan. Bisakah???
Mengosongkan hati bak mimpi. Kenyataannya lebih merasa dipecundangi.
Tak perlu mengaitkan dengan dalamnya samudra hindia. Itu hanya omong kosong. Baiknya kita sudahi pesta dengan merenungi diri. Tidak perlu bermain-main dengan janji yang lebihi batas toleransi. Aku muak!!
Hari ini berpaling sudah aku pada obralan kata. Tidak lagi bisa kembali sepeti yg sudah. Tlah ku kirimkan kalung maaf tapi tak bisa membuat ia seperti hari lalu. Sakit ini sudah terlampau dalam. Menangis . . . Teriris. . . Inilah keputusan itu. Ah, tegar penuh kepalsuan. Menguatkan diri mengatakan keputusan. Jawaban bak kata yang mirip pemanis buatan. Jangan rusak tegasnya putusan dengan air mata yg berlinang dikelopak mata. Tolong jangan tunjukkan itu karena aku takut akan menumbuhkan belas kasihan yang mengubah putusan.
Oh, pesta batin dengan langit yang miskin warna. Pesta yang menguji kejujuran jiwa tentang makna yang tak bisa terbingkai kata atau istilah.
Air mata tak jua mengalah. Terus mengejar tanpa henti. Seolah aku terdakwa yang tak layak diberi ampun.
Sakit ini. . .
Sakit penuh derita. . .
Rasanya seperti mau tumbang namun, aku masih ingin bertahan. Ya, sekedar merasakan berdansa atau nonton teater bersama senyum dari kesabaran. Atau mungkin tertawa riang di Green Gables sambil menghirup wangi mawar liar penuh kemenangan. Bisakah???
Umair#3
Awalnya langit tak berbintang, gelap. Lalu angin dingin berhembus menusuk tulang kering. Hujan terlalu lebat untuk kesepian seperti ini.
Aku dan langit seolah berkomplot atas keadaan yang terlampau sepi dengan tangis karena menahan rindu tak bertuan. Aku titipkan padaNya gundukan rindu yang telah menyesaki ruang hati.
Bukan seperti yang kalian bayangkan. Kisah antara aku dan Umair adalah cerita abadi yang tak akan tergerus oleh putaran masa. Cinta kami tercatat dalam lembar-lembar peradaban agung cinta yang suci. Cinta yang tanpa noda dan kupastikan Cinta antara aku dan Umair mendunia akhirat.
Kali ini aku tak mau payah. Umair terlalu banyak membuat skenario atas pertemuan-pertemuan kami. Giliranku yang harus membuat skrenario pertemuan bulan ini. Kupastikan kau terpesona dengan skenarioku. Aku yakin dia akan penasaran. Tapi, aku ingin mengajak seorang lagi.
Aku pikirkan ide ini selama dua hari. Kita akan bertemu di lampu merah yang paling bagus di kota cirebon. Kalau cuaca bagus gunung ciremai bisa terlihat sangat mempesona. Ya, semoga cuaca hari itu bagus. Aku akan membeli kue banyak-banyak karena kita akan bernyanyi dengan anak jalanan dan anak punk. Aku telah menghubungi mereka agar bisa berkumpul di hari itu. Kau tahu? Aku request lagu2 bagus dan tentu saja lagu kesukaanmu. Tampaknya aku akan melihat kau bahagia.
Ah, kau harus tahu ternyata mereka minta dibayar 3ribu per orang untuk mendendangkan yang kau sukai. Tapi tdk apa.
(bersambung krn bnyk sms)
Aku dan langit seolah berkomplot atas keadaan yang terlampau sepi dengan tangis karena menahan rindu tak bertuan. Aku titipkan padaNya gundukan rindu yang telah menyesaki ruang hati.
Bukan seperti yang kalian bayangkan. Kisah antara aku dan Umair adalah cerita abadi yang tak akan tergerus oleh putaran masa. Cinta kami tercatat dalam lembar-lembar peradaban agung cinta yang suci. Cinta yang tanpa noda dan kupastikan Cinta antara aku dan Umair mendunia akhirat.
Kali ini aku tak mau payah. Umair terlalu banyak membuat skenario atas pertemuan-pertemuan kami. Giliranku yang harus membuat skrenario pertemuan bulan ini. Kupastikan kau terpesona dengan skenarioku. Aku yakin dia akan penasaran. Tapi, aku ingin mengajak seorang lagi.
Aku pikirkan ide ini selama dua hari. Kita akan bertemu di lampu merah yang paling bagus di kota cirebon. Kalau cuaca bagus gunung ciremai bisa terlihat sangat mempesona. Ya, semoga cuaca hari itu bagus. Aku akan membeli kue banyak-banyak karena kita akan bernyanyi dengan anak jalanan dan anak punk. Aku telah menghubungi mereka agar bisa berkumpul di hari itu. Kau tahu? Aku request lagu2 bagus dan tentu saja lagu kesukaanmu. Tampaknya aku akan melihat kau bahagia.
Ah, kau harus tahu ternyata mereka minta dibayar 3ribu per orang untuk mendendangkan yang kau sukai. Tapi tdk apa.
(bersambung krn bnyk sms)
Langganan:
Postingan (Atom)
