Sudah dua malam aku tak tidur. Rasanya darahku berkumpul di ubun-ubun kepala. Semua sendi tulang serasa mau lepas dan sangat nyeri bahkan, mataku menangis tanpa ku minta. Air mata menetes seolah meminta hak untuk terlelap. Aku. . .akan ke Belanda. Tes tertulis sudah ku lakukan dan tak kusangka aku lolos walau hanya main-main mencobanya. Wahai kawan. . .berilah maaf padaku karena lama tak mempedulikan kegiatan di kampus belakangan ini.
Jujur saja tubuhku sangat lunglai tapi pagi itu aku harus ke Jakarta. Menuju kedubes Belanda untuk tes wawancara. Dalam perjalanan itu. . . Aku merasa tubuhku melayang. Lelah benar rasanya. Tiba-tiba mulut terasa asam. Rupanya produksi asam lambung mendadak meningkat. Aku tenggak air mineral agar mengurangi konsentrasi asam lambung. Usaha itu hanya bertahan beberapa menit saja. Aku benar-benar tak bisa berfikir. Suhu tubuh naik. Dan. . .benar saja aku muntah mengeluarkan cairan putih yang rasanya pahit. Aku lupa makan seharian itu.
Ya, ini adalah kesempatan. Aku harus bisa bertahan untuk hari itu. Satu hari saja. Ku usahakan penampilanku meyakinkan dengan memakai baju warna coklat. Warna coklat itu bisa membuat pemakainya terlihat cerdas. Tidak rasional memang tapi aku mempercayai usulan Andrea Hirata. Kebetulan aku pun suka warna ini.
Perasaanku tak karuan. Jangtung bedebar. Aku diuji oleh profesor. Aku. . . .
(to be continue)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar