Seperti kilatan cahaya petir. Terlalu cepat kecepatan kilatannya. Seperti malam ini, terlalu dingin dan mengusik lentera hati. Oh, kenapa? Betapa ia dahsyat tak terkira. Membuat manusia baja pun takluk tak berdaya. Dan kini, sepertinya rasa itu menembus melalui celah2 terkecil hati. Membuat lembab tak terelakkan lagi.
Ini bukan pink atau merah jambu tapi sesuatu yang terlampau aneh dirangkai dengan kata. Adalah tidak munkin bersyair indah seperti Abdullah bin Rawahah. Maka butiran air matalah yang menghapus tulisan cerita jingga.
Ya, jalinan itu dimulai dg pertemuan sampai ku lihat dia menangis. Itulah pertama kalinya aku melihat dia tak setegar karang. Itulah pertama kalinya aku tak melihat dia yang keras kepala dan kuat. Hanya air mata. Di ruangan itu aku melihat dia tersedu-sedu dg kemeja kotak-kotaknya.
Entahlah apa yang terjadi sampai aku merasa aku sangat mengenalnya, Umair. Ku panggil dia Umair. Itulah pertama kalinya aku dirasuki rasa yang membuat tak berdaya. Bukan seperti yg kalian bayangkan. Kita jarang sekali bertemu tapi telah ada ikatan atas restu Robb untuk kita berdua. Perhatiannya tak pernah luput. Ya, diantara hiruk pikuk aktifitas, dia sering sekali menyelipkan susu kotak di tasku tanpa ku tahu. Perhatian ini terus saja kudapatkan. Dia benar2 membuatku jatuh hati.
Umair. . .penyuka warna putih dan pencinta si baju putih telah berhasil mencuri hatiku. Ah, dia tdk pernah tahu aku sering mencuri pandang padanya.
"berapa kali kita berjalan berdua?" umair bertanya
"ribuan kali tapi sisanya di mimpi.hahaha . . " jawabku
dan siang itu kita bertemu. Seperti biasa, umair terlalu pandai merencanakan pertemuan yg indah. Di suatu tempat yg akan menjadi kenangan. Umair memulai percakapan, "aku bisa meraih mimpiku tapi masih berpikir bagaimana mendapatkan 100juta"
"sertifikat rumah kita gadaikan saja," jawabku.
"itu dia masalahnya, rumahku ditaksir kurang dr 100juta. Yakin. Pasti bisa. Tdk th knp aku sangat yakin Bisa mendapatkan mimpi2ku"
"wah, aku bisa mengajukan proposal beasiswa S2 dong," aku tertawa dan berharap penuh doa.
"tdk. Tdk perlu pakai proposal. Aku kasih walau tanpa proposal," jawab umair dan membuaku tersipu.
Itulah umair jk tanpa air mata. Penuh pesona. Pemberani dan penuh mimpi yang berkilat-kilat. Aku makin terpesona padanya. Mencintainya adalah sebuah keindahan. Rasanya seperti kasmaran seumur hidup.
Inilah orkestra cinta yang saling menopang. Kita saling menghujani semangat untuk meraih mimpi2 kita. Kali ini ia berhasil membuat mukaku merah. Dia bilang, "aku ingin malam ini bermimpi bertemu dg mu"
lihatlah, malam ini aku bermimpi kt bertemu di tempat indah saat musim semi. Aku melihat wajahmu yg riang. Kau terlihat Sangat bahagia tapi, fajar telah membangunkanku. Aku pergi meninggalkan Umair untuk mengejar Cinta Yang Maha Agung. Kau pun begitu. Pohon yang penuh bunga sama2 kita tinggalkan. Tahukah? Rupanya kita telah pandai menempatkan cinta kita. Aku yakin dunia iri dg cinta yg kita miliki. Umairku. . .
Aku akan selalu rindu pelukan darimu.
Umair aku tak bisa menjadi seseorang yang sempurna tapi biarkanlah aku belajar mengeja rindu ini. Ijinkan aku belajar mencintaimu karna cintaku padaNya. Biar syuhada iri. Biar bidadari cemburu.
Apakah esok kita masih bisa saling menatap? Setidaknya jika tdk bisa bertemu di Australia ya di Belanda atau di Lebanon atau di Spanyol atau di Mekah atau di Palestina? Mungkin juga di Indonesia. Insyaallah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar