Memendam Rindu

Bolehkah aku egois? Aku ingin bertemu denganmu, Rindu. Menjemputnya setelah empat tahun silam ku tinggalkan ia di jawa tengah itu. Sudah berkali-kali sms dan telpon masuk menanyakan, "apakah aku akan ikut menjemputnya? Menyaksikan ia telah meraih mimpinya?"

sungguh Rindu jika kau mau tahu aku, ingin. Sangat ingin menemuimu tapi rasanya berat sekali meninggalkan senja di Cirebon minggu ini. Aku terus berpikir untuk merombak semua agenda 4 hari ini agar aku bisa berjumpa denganmu. Tapi nihil. Sungguh tak bisa.

Rindu? Ku simpan rinduku ini untukmu, Rindu. Rupanya aku harus menuntaskan semua tugas yang tak bisa aku tinggalkan. Kau tahu? Aku ingin bercerita panjang sampai tengah malam denganmu. Aku harus mengantarkan 5pemuda menjemput impiannya. Aku harus membantu mereka selama sebulan ini. Bukan Rindu! Bukan! Bukan hanya kau yang tak bisa ku temui tapi banyak sekali agenda organisasi yang tak bisa ku ikuti juga. Aku yakin kau sangat mengerti keadaanku.

Sore ini adikmu datang kerumah menanyakan apakah aku mau ikut atau tidak menjemputmu. Aku hanya bilang, "maaf. Tdk bisa". Aku hanya menitipkan dua lembar surat padanya untukmu. Sejam kemudian Ayahmu menelpon memastikan keputusanku dan aku tetap bilang, "tidak bisa ikut."
####

rasanya ingin menangis tak bisa menyaksikan keberhasilanmu, sahabat. Tapi aku telah mendapat penawarnya. Ya, sebuah perjalanan membela kemanusiaan. Aku tidak tahu kenapa piala dunia lebih booming dari pada isu internasional yang sudah bertahun2 itu? Apa sudah tdk ada lagi mata hati yg peka terhadap penderitaan sesama manusia? Aku masih ingat saat kau bertugas membaca pembukaan UUD 1945 dg baik dan aku mengibarkan bendera merah putih. Kau sangat lantang berkata, ". . .bahwa penjajahan diatas dunia harus dihapuskan krn tdk sesuai dg pri kemanusaan dan pri keadilan. . ." tp ternyata kata2 dr mulut mungilmu itu seperti sebuah pedang tumpul sejak kau baca kalimat itu.

Rindu, aku kangen sekali dengan bacaan puisimu atau cerita2 tentang sastra darimu. Aku masih ingat saat kau menceritakan buku ernes hemingway, "the old man and the sea"

ah Rindu walau ku tak bisa menemuimu tapi aku gembira sekali. Seorang muridku yang luar biasa telah mencapai level kelas 2tingkat lbh dari kapasitas anak seusianya. Hari ini dia protes, "mbak mukanya kok merah sekali?"

aku hanya senyum. Aku hny berpikir memang mukaku kadang2 seperti itu.

Ketika aku sampai rumah ibu langsung bilang, "knp mukamu gadis? Merah sekali"

aku bingung. Aku tdk melihat mukaku pada kaca seharian. Dan,,memang benar. Mukaku merah, terbakar. Kau pasti sangat cerewet jika melihatku seperti ini tp aku bahagia Rindu.

Dalam surat yang kuti2pkan untukmu aku ceritakan tentang Cinta. Aku yakin kau akan tersenyum sambil meneteskan air mata.

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger