Renungan Lelaki Tampan

Sinar ini terlalu panas bagiku. Menggarang muka. Membuat silikon yang tepasang di sisi-sisi muka meleleh seperti lilin terbakar api. Aku harus berjalan dengan kepongahan mempertahankan mukaku agar tetap tampan. Bagaimana bisa aku berjalan di atas bumi dengan kerusakan seperti ini? O, tidak! Tidak akan mungkin aku biarkan debu merusak keelokan rupaku yang tak ada duanya.

Aku sudah katakan di hadapan rumput kering dan ilalang bahwa aku akan menghujani mereka dengan air yang menyejukkan. Aku sangat sadar bahwa teriakan ilalang hanya sekeras tiupan angin sepoi-sepoi. Dan aku berhasil meyakin penghuni kecil tak berarti itu bahwa sifat ku serupa dengan ketampananku yang penuh silikon, operasi-operasi plastik, dan gigi-gigi ku yang hitam. Lalu? Cukup ciptratkan sesendok air untuk menghentikan riakkan para ilalang yang polos dan bodoh. Setelah aku malas dengan rumput yang memenuhi halaman aku, tinggal suruh tukang kebun untuk memangkas atau musnahkan saja mereka. Toh, aku sudah tidak butuh mereka. Ilalang obat sariawan? Aku tidak peduli karena aku yang sekarang telah mampu membeli obat termahal. Jasku dirancang dengan bugjet jutaan. Semua bisa aku sumbat dengan sekian nominal. Dan kau tahu? Aku tetap tampan dimata mereka. Aku puas. . .

Si bodoh tetap menganggapku penyelamat padahal jelas sudah aku telah membunuh kawanan mereka. Ya, karena aku teramat brilian. Pendidikan amerika, eropa, sampai timur tengah telah kujajali untuk menambah kemampuanku mempertahankan image ku dihadapan semut yang berjalan tengah malam.

Tapi, akulah lekaki tampan yang harus mengakui kecerdasan kucing-kucing jalanan. Kucing itu telah berhasil menggores pipiku. Perih!! Aku marah. Muka tampanku mendadak hilang karna cakaran kucing kumuh itu. Dengan sangat pandai ku buat angin timur dan barat untuk menghembuskan berita bahwa aku tetaplah tampan dan baik. Dan kucing jalanan itu? Gampang. BUNUH SAJA!!

Aku senang. Berpesta pora dan ilalang tetap menganggap aku lah pahlawan mereka. Dan kucing-kucing dekil itu mati satu demi satu. Aku puas dan makin terlihat tampan. Sanjungan datang. Gelar pahlawan menghadang. Harta menggenang. Kekuasaan di genggaman. "Hahaha. . . Aku lah lelaki brilian," ucapku penuh kesombongan.


Dan, hari ini aku bertemu dengan orang-orang besar dan pemimpin negara-negara adidaya. Aku dibalas. Aku diperlakukan bak pecundang. Ditekan-tekan semau mereka seperti adonan kue nastar yang disajikan di meja tamu ketika lebaran.

Akhirnya kini aku berfikir ulang benarkah aku tampan? Lalu sanjungan itu apa? Tuluskah atau sekedar omong kosong agar aku mengucurkan butiran-butiran emas? Oh, aku tampak sangat malang dan aku ragu akan ketampananku hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger