Jika malam menterjemahkan dirinya dengan pekat maka biarkan pagi memperkenalkan dirinya dg embun. Ya, seperti terasing dalam peradaban. Tersudut oleh ilmu pengetahuan. Terhempas oleh fakta yang tak terelakkan. Membaca hidup dengan separuh napas yang tersisa. Ah, tetap saja meronta-ronta merajut mimpi yang masih juga diyakini hingga kini. Harus diapakan? Atau mestinya bagaimana? Rasanya seperti pendusta yg mengobral janji tak berujung.
Lupakan. Aku bilang lupakan!! Kau tetap tak bergeming. Masih jua kau berdiri mematung di ambang batas. Sadarlah! Tolong sadarlah. Aku hanya tidak sanggup melihat air mata menggeliat di pipi indahmu. Itu saja.
Biarkan aku terbang seperti burung yang kabur meninggalkan sangkar. Mengartikan keindahan dengan deskripsi alam pikirku. Jika kau bertanya, "apa alasannya?" karena aku masih menjadi peri kecil yang menari-nari di atap rumah atau sekedar memenuhi hasrat dg mengecup pipi bunda setiap pagi atau karena aku melihat bumi seolah menyentuh langit? Menyatu dan Bersenyawa.
Seperti manusia dungu yang tak kunjung mengerti. Kau masih bertanya tentangku.
Kau mau tahu? Baiklah, biar ku jelaskan. Agar kau puas!! Jika kau pikir aku pintar maka itu tdk benar. Aku hanya Gadis rata-rata. Aku Gadis yang menyimpan duka masa lalu yang tak bisa kubuang pergi. Kau tidak akan mengerti bukan? Ya, karena kau lari tunggang langgang mendengar fakta yang terlampau menyakitkan. Kau seperti teman2 kecilku dulu. Pergi menjauh. Itulah kamu!!
Kau tak melihat apa2 kala malam selain gelap tapi aku bisa melihat bintang yang tak bisa kau pandang karna keangkuhanmu. Dan pagi ini terlampau sejuk untuk kau usik maka, biarkan ku hirup udara kali ini sendiri. Ya, sendiri. Tanpa mimpi apalagi ambisi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar